Sistem Politik
ASSALAMU’ALAIKUM.
WR. WB
Pelajari Modul 1, KB 3 tentang Sistem Politik. Diskusikan Gambar
1.1. yang terdapat pada halaman 1.41. Kaitkan variabel2 yang ada pada
gambar tersebut dengan sistem politik Indonesia saat ini. Sebagai contoh,
apa/siapa yang dimaksud dengan ‘people’? Dstnya.
Perbedaan utama sistem-sistem ini adalah
kegiatan-kegiatan yang mendukung proses masing-masing sistem. Berbagai sistem
ini saling mempengaruhi dan saling melengkapi seperti halnya organisme dalam
teknologi. Sistem politik menyangkut proses-proses dan kegiatan politik,
sementara sistem ekonomi adalah proses-proses yang melibatkan kegiatan-kegiatan
ekonomi yaitu kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Setiap
sistem ini mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang ditujukan untuk menjaga
kelangsungan hidup masyarakat tersebut, dan pencapaian tujuan-tujuan masyarakat
yang bersangkutan.
Konsep sistem ini dipinjam dari ilmu biologi. Dianggap
bahwa suatu sistem politik seperti halnya organisme dalam biologi, terdiri dari
bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling bergantung satu sama lainnya
(interdependent). Keseluruhan interaksi itu perlu diamati apabila seluruh
organisme ingin dipahami. Untuk itu perlu diperhatikan hal-ha berikut :
Pertama, bahwa setiap perubahan dalam suatu bagian dalam
sistem akan berpengaruh terhadap keseluruhan sistem;
Kedua, sistem itu bekerja dalam suatu lingkungan
(environment) tertentu yang lebih luas dan ada perbatasan antara masing-masing
sistem.
Sistem politik disebut juga sebagai sistem terbuka,
sehingga terbuka pula bagi pengaruh yang berasal dari lingkungannya, seperti :
sistem ekonomi, sistem budaya, dan sistem kepercayaan. Sistem pada hakikatnya
mengadakan interaksi dengan lingkungannyan dan dipengaruhi oleh lingkungan itu.
Oleh sebab itu seorang sarjana politik harus peka pada pengaruh sitem-sistem
lainnya terhadap sistem politik, apabila ingin mengerti lebih jauh tentang
keadaan politik suatu negara. Keadaan politik suatu negara seperti Indonesia,
akan bisa lebih dimengerti apabila kita mengaitkannya dengan sistem ekonomi
yang diselenggarakan oleh pemerintah. Oleh sebab itu seorang sarjana politik
dituntut harus memahami disiplin ilmu lainnya sebagai bahan analisis.
Pada dasarnya konsep sistem dipakai untuk keperluan
analisis, di mana suatu sistem bersifat abstrak pula. Dalam konteks ini sistem
terdiri atas berbagai variabel. Konsep sistem dapat pula diterapkan pada suatu
situasi konkret, misanya negara, atau kesatuan yang lebih besar pada situasi
internasional di mana komponen-komponennya adalah negara-negara. Aristoteles
membuat sebuah klasifikasi sistem politik klasik pada abad keempat S.M. yang
didasarkan pada dua dimensi, yaitu : siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang
memerintah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel di bawah ini.
|
Who Rules |
|
One Person |
The Few |
The Many |
|
Who Benefits ? |
Rulers |
Tyranny |
Oligarchy |
Democracy |
|
Who Benefits ? |
All |
Monarchy |
Aristocracy |
Polity |
Sumber:
Andrew Heywood, Politics. London: Macmillan Press Ltd., 1997, hal. 25.
Dalam konsep
sistem politik selalu akan ditemukan istilah proses, struktur, dan fungsi.
Proses adalah pola-pola (sosial dan politik) yang dibuat oleh manusia dalam
mengatur hubungan-hubungan antara satu sama lainnya. Dalam suatu negara,
lembaga-lembaga seperti parlemen, partai, birokrasi tidak lain adalah
proses-proses yang pola ulangnya sudah mantap. Lembaga-lembaga ini mempunyai
kehidupan masing-masing. Mereka mencerminkan struktur perilaku (structure of
behavior). Struktur ini mencakup baik lembaga-lembaga formal seperti parlemen,
kepala negara maupun informal seperti jaringan komunikasi dan lain sebagainya.
Sistem politik menyelenggarakan fungsi tertentu dalam
masyarakat. Fungsi tersebut antara lain membuat keputusan-keputusan yang
mengikat seluruh masyarakat seperti kebijakan-kebijakan umum dan pengalokasian
nilai-nilai dalam masyarakat. Keputusan-keputusan ini disebut juga output dari
sistem politik. Untuk membuat keputusan yang mengikat seluruh masyarakat tentu
saja diperlukan kekuasaan.
Proses dalam suatu sistem pada dasarnya dapat dijelaskan
sebagai berikut: dalam proses terkait adanya input dan output. Dalam situasi
konkret seperti negara, terdapat juga input dan output ini. Input datang dari
lingkungan berupa tuntutan dan dukungan. Setiap negara menerima tuntutan agar
ada dinamika yang terus menerus dalam kehidupan bernegara. Contoh dari tuntutan
misalnya tuntutan masyarakat agar harga BBM diturunkan. Pemerintah perlu
dukungan agar dapat melakasanakan segala hal yang ditugaskan dalam rangka mengemban
tugas-tugas negara. Contoh dari dukungan masyarakat adalah kepatuhan membayar
pajak, patriotisme, dan sebagainya. Setelah diolah melalui proses politik, baik
dukungan maupun tuntutan itu muncul dalam bentuk kebijakan pemerintah yang
mengikat (output). Contoh: masyarakat menuntut perluasan kesempatan belajar.
Input ini dikonversi oleh gate keepers, dalam hal ini adalah
institusi-institusi perwakilan seperti: parlemen, partai politik, dan
kelompok-kelompok kepentingan, menjadi ketentuan mengenai wajib belajar sebagai
output. Namun karena sistem politik memiliki kecenderungan untuk selalu
bertahan (persistence), maka kebijakn politik itu pun berperan sebagai tuntutan
atau dukungan baru. Pola itu dikenal sebagai umpan balik (feed-back) yang
selanjutnya akan menjadi pertimbangan atau bahkan menentukan kebijakan politik
yang datang kemudian.
Pada dasarnya, kelangsungan hidup sistem politik
ditentukan oleh kemampuan sistem itu untuk menanggapi masukan-masukan yang
diterimanya. Tanpa adanya pertimbangan antara kebijakan yang mengikat bagi
seluruh masyarakat, dengan tuntutan serta dukungan, kehidupan sistem politik
yang sehat akan terancam.
Salah satu aspek penting dalam sistem politik adalah
(political culture), yang mencerminkan faktor-faktor subjektif dalam
masyarakat. Budaya politik ini merupakan keseluruhan pandangan-pandangan
politik, norma-norma, orientasi, maupun tingkah laku politik. Budaya politik
bertolak dari dimensi psikologis masyarakat, seperti : sikap, sistem
kepercayaan, simbol-simbol yang dimiliki individu, maupun harapan-harapan.
Kegiatan politik seseorang tidak saja ditentukan oleh tujuan politiknya
sendiri, melainkan juga didorong oleh harapan-harapan politik sesuai dengan
pengalaman dan pandangannya terhadap sistem politik yang sedang berlangsung,
serta dipengaruhi oleh kegiatan politik pihak lain.
Akhirnya variabel penting
dalam sistem politik di antaranya adalah :
1. Kekuasaan, sebagai cara
untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam alokasi sumber daya di antara
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2. Kepentingan, sebagai
tujuan-tujuan yang ingin dikejar oleh pelaku-pelaku politik.
3. Kebijakan, sebagai hasil
interaksi antara kekuasaan dan kepentingan, biasanya dalam bentuk
perundang-undangan; dan
4. Budaya politik, sebagai
orientasi subjektif individu terhadap sistem politik.
SUMBER BUKU MATERI POKOK
ISIP4212/3SKS/MODUL1
PENGANTAR ILMU POLITIK
SEIAN TERIMAKASIH J
Komentar
Posting Komentar