Sistem Sosial Talcott Parsons

 Menurut pendapat Anda, apakah suatu sistem dapat bertahan? Bagaimana caranya?

ASSALAMU’ALAIKUM. WR. WB

            Pendekatan ini menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya terintegrasi atas dasar kesepakatan para anggotanya mengenai nilai-nilai sosial tertentu, suatu general agreements yang mampu mengatasi perbedaan pendapat atau kepentingan di antara para anggota masyarakatnya (Nasikun, 2000:9). Para filosof ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium, oleh karena itu aliran pemikiran ini disebut sebagai integration approach, equilibrium approach dan yang lebih populer dikenal dengan structural functional approach.

Sistem Sosial dalam Pandangan Talcott Parsons

            Pendekatan fungsional dapat kita jumpai pada teori yang dikemukakan Talcott Parsons tentang sistem sosial. Sistem sosial ini mempunyai prinsip dasar bahwa : (a) kehidupan sosial itu terdiri atas elemen-elemen yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya (b) hubungan antara elemen yang satu dengan yang lain merupakan hubungan yang saling tergantung satu sama lain (c) sistem sosial bergerak ke arah equlibrium/keseimbangan, artinya kalaupun perubahan yang terjadi hal ini diakibatkan oleh pengaruh dari luar untuk mencapai integrasi, (d) perubahan yang terjadi di dalam sistem sosial bersifat gradual, artinya perubahan tersebut terjadi secara bertahap dan melalui penyesuaian berbagai unsur-unsur yang ada (e) integrasi sosial terjadi akibat dari kesepakatan nilai dan norma yang menjadi prinsip dan tujuan yang ingin dicapai anggota masyarakat (Nasikun: 2000, Setiadi dan Kolip: 2011).

            Dari sejumlah prinsip di atas, sebenarnya sistem sosial dapat dimulai dari sistem yang paling sederhana hubungan duaan (dyadic) yaitu hubungan timbal balik dua orang individu menuju ke hubungan yang lebih kompleks yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah banyak individu. Namun, yang banyak dikaji oleh Parsons adalah sistem sosial yang kompleks yaitu masyarakat.

            Parsons mengintrodusir bagan sistem biologis yang dikemukakan oleh Cannon ke dalam sosiologi. Cannon menyatakan bahwa setiap sistem biologis bersifat homeostatis dalam arti bahwa setiap sistem itu cenderung untuk mempertahankan keseimbangannya baik ke dalam maupun ke luar (Veeger, 1985: 202). Artinya, keseimbangan benar-benar dijaga dan dipertahankan dengan upaya menetralisir gangguan atau halangan yang ada. Secara biologis, ketika infeksi terjadi, tubuh khususnya sumsum akan menghasilkan tambahan sel-sel darah putih atau antibodi berbentuk secara otomatis. Inilah yang oleh Parsons diintrodusir bahwa (a) konsep fungsi dipahami sebagai sumbangan keselamatan dan kesatuan sistem sosial (b) konsep pemeliharaan keseibangan adalah ciri-ciri utama dari tiap sistem sosial (Veeger, 1985: 202).

            Nampak bahwa sistem sebagai sebuah keseluruhan terdiri dari berbagai unsur yang saling bergantung satu sama lain, artinya unsur-unsur tersebut tidak terpisah. Perubahan pada unsur yang satu akan berpengaruh kepada unsur yang lain. saling ketergantungan ini mengarah kepada keseimbangan sebagai tujuannya dan keseimbangan cenderung untuk mempertahankan diri.

            Prinsip ketergantungan dan keseimbangan ini didasarkan pada analogi organisme biologis. Seperti halnya organisme manusia, tangan atau kaki adalah bagian atau unsur dari tubuh manusia, demikian pula bagian-bagian yang lain dalam tubuh manusia seperti jantung, hati, paru-paru, unsur-unsur tersebut tergantung satu sama lain dan masing-masing unsur memiliki fungsi yang menyumbang bagi keseimbangan metabolisme tubuh manusia, maka masyarakat juga terdiri dari sejumlah subsistem seperti institusi keluarga, agama, politik, ekonomi yang masing-masing memiliki fungsi bagi keangsungan hidup masyarakat (survival of the fittest)

Kerangka A-G-I-L sebagai Persyaratan agar Sistem Bertahan

            Parsons mengetengahkan tentang empat persyaratan fungsional yang cukup mendasar, dia menggambarkannya dalam skema A-G-I-L (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latent Pattern Maintanance) yaitu suatu kerangka untuk menganalisa suatu sistem sosial dalam mempertahankan eksistensinya Paul Johnson, (1986: 128-132).

            Persyaratan adaptation menunjuk pada keharusan bagi sistem sosial untuk menghadapi lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial yaitu suatu penyesuaian dari sistem itu terhadap ‘tuntutan kenyataan’ yang keras yang sulit diubah, selain itu adaptasi juga merupakan proses transformasi aktif dari situasi tadi. Adaptasi ini juga berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai (goal attainment) oleh anggota dari sistem sosial tersebut. Persyaratan lainnya adalah perlu terbentuk solidaritas yang kuat di antara para anggota sistem agar para anggota terintegrasi dalam tahap pencapaian tujuan. Pada gilirannya tahap terakhir dari persyaratan ini adalah tahap mempertahankan pola (latent pattern maintenance), konsep latency ini menunjuk pada berhentinya interaksi karena biasanya sistem sosial itu menghadapi titik jenuh. Untuk lebih jelasnya, dapat kita lihat dalam contoh berikut, misalnya dalam suatu sistem sosial atau masyarakat Indonesia yang hidup di suatu kawasan dengan lingkungan alam berupa gunung, lautan maka masing-masing subsistem mempunyai tanggung jawab beradaptasi dengan situasi tersebut. Salah satunya adalah subsistem ekonomi maka institusi ekonomi harus mampu mengubah kondisi alam menjadi bermanfaat bagi masyarakat Indonesia agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu muncul mata pencaharian yang bervariasi, sebagai petani, nelayan, dan lain-lain. Demikian pula dengan persyaratan kedua yaitu tujuan yang akan dicapai, hal ini harus sama-sama diusahakan oleh anggota-anggota masyarakat Indonesia mempersiapkan kemerdekaan, hal ini adalah tujuan bersama. Persyaratan ketiga adalah integrasi, tanpa solidaritas yang kuat antara individu satu dengan yang lainnya maka bangsa Indonesia sulit untuk melawan penjajah dalam mencapai tujuan kemerdekaan. Terakhir adalah nilai-nilai moral yang harus dijaga oleh masyarakat Indonesia dengan mensosialisasikan nilai-nilai moral melalui keluarga masing-masing untuk mempertahankan pola-pola budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

            Seperti juga keluarga-keluarga di Indonesia masih berfungsi sebagai tempat sosialisasi nilai yang juga masih sarat dengan nilai budaya di mana etniknya berasal. Nilai budaya masing-masing akan terus disosialisasikan antar generasi, oleh karena itu bangsa Indonesia masih bertahan dengan multibudaya yang ada, meski tidak dapat dipungkiri ada bagian tertentu dari sistem yang mengalami pergeseran.

            Contoh lain dalam organisasi partai politik, agar sebuah parpol dapat bertahan sebagai sistem maka harus memenuhii 3 prasyarat yaitu pertama, adaptif, artinya parpol tersebut harus mempunyai sarana dan prasarana materiil agar dapat menghadapi kenyataan bahwa menjadi parpol peserta pemilihan umum di Indonesia ada syarat-syarat materiil yang harus dipenuhi. Kedua, sebagai sebuah parpol, maka organisasi politik ini harus memiliki tujuan yang jelas yang akan dicapai oleh semua anggota parpol tersebut dengan membangun solidaritas antar anggotanya agar parpol terintegrasi dengan kuat. Ketiga,  pola-pola pemeliharaan yang berupa nilai-nilai moral perlu ditanamkan kepada semua anggota yang pada gilirannya akan ,menghasilkan sebuah parpol yang eksis.

            Ketiga prasyarat ini bila dapat dipenuhi baik pada sistem sosial yang bersifat mikro maupun makro maka sistem itu akan bertahan, eksis dan pola-pola budaya yang ada tetap dapat dipertahankan, sifatnya terkesan statis dan tidak mudah berubah, namun demikian dalam kenyataannya tidak semua sistem sosial itu statis, seperti yang telah disinggung di atas, ada bagian dari sistem sosial yang mengalami perubahan, jadi ada ruang yang memungkinkan berubah, hal ini menunjukkan bahwa sistem sosial tidak mutlak statis.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

ISIP4214/3SKS/MODUL1

SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA

SEKIAN TERIMAKASIH  J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Politik