Sosial Sosiologi

1. Jelaskan mengapa teori diperlukan dalam kehidupan sosial sehari-hari
            Setiap hari manusia tidak pernah lepas dari teori. Sering kali secara tidak sadar manusia selalu berteori . Anda pernah menyadari bahwa Anda selalu berteori? Kita ambil saja contoh, pernakah  Anda datang terlambat ke suatu pertemuan atau janji dengan seseorang? Ketika Anda datang Anda sudah menyiapkan berbagai alasan yang menurut Anda bisa diterima oleh orang yang akan bertemu dengan Anda, tentang keterlambatan datang. “Maaf, tadi sesungguhnya saya sudah berangkat satu jam lebih awal, namun ternyata kendaraan yang saya tumpangi mogok di jalan tol, sehingga saya harus menunggu lama sampai kendaraan tersebut selesai dibetulkan.” Mungkin itu alasan yang Anda sampaikan. Alasan yang Anda kemukakan sesungguhnya merupakan sebuah teori. Teori sederhana yang mencoba memberikan penjelasan tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Anda sudah menyadari tentang teori yang Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari?

2. Jelaskan bagaimana terbentuknya teori melalui proses induksi dan deduksi.
            Berdasar arah penalarannya, teori dapat diidentifikasikan ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Teori dengan pendekatan deduktif sering kali dikatakan sebagai teori dengan pendekatan klasik. Kata klasik di sini berbeda dengan pembagian teori klasik dan modern. Kata klasik di sini diidentikkan dengan paradigma yang berkembang lebih dulu, yaitu order paradigm. Pendekatan yang dikembangkan dalam order paradigm adalah pendekatan yang deduktif, karena berangkat dari sejumlah pola yang bersifat universal. Deduktif, seperti sudah disinggung adalah pola penalaran yang berangkat dari hal yang sifatnya umum ke hal yang sifatnya khusus. Teori yang digunakan di dalam pendekatan ini adalah teori yang bukan hanya berfungsi sebagai sumber jawaban dari suatu kasus, namun juga sumber ide tentang bagaimana kasus yang ada bisa dianalisis. Pendekatan induktif sebalikny merupakan pendekatan yang dikembangkan di dalam pluralist paradigm. Dalam pendekatan ini seseorang justru berangkat dari hal-hal yang khusus ke hal-hal yang sifatnya umum. Dengan kata lain seseorang dalam melihat sebuah kasus justru berangkat dari kasus itu sendiri dengan kekhususan-kekhususan yang ada, yang bersifat empirik, untuk mencoba kemudian ditingkatkan ke hal yang sifatnya umum, yaitu dalam teori. Pendekatan induktif dapat dikatakan lahir sebagai respons atas keterbatasan-keterbatasan yang ada di dalam pendekatan kuantitatif. Sekalipun demikian pendekatan ini juga memiliki kelemahan-kelemahan yang justru bisa di atasi dengan pendekatan kuantitatif.

3. Bagaimana menurut Saudara membentuk teori dengan pendekatan kausalitas.
            Berdasar bentuk penjelasannya, teori debedakan ke dalam teori yang menggunakan cara penjelasan kausal, teori yang menggunakan cara penjelasan struktural, serta teori yang menggunakan cara penjelasan interpretif.

a. Teori yang menggunakan cara penjelasan kausal sering dikatakan sebagai pola hubungan sebab akibat. Ada kriteria yang bisa digunakan untuk menentukan suatu pola hubungan  sebab akibat, yaitu:
1) Hubungan sebab akibat terjadi dalam suatu urutan waktu. “Sebab” selalu terjadi lebih dahulu, kemudian “akibat” baru terjadi.
2) Adanya asosiasi di antara gejala-gejala yang saling berhubungan.
3) Tidak adanya gejala lain yang bisa mengaburkan hubungan sebab akibat yang terjadi.
4) Adanya asumsi dasar yang kuat dalam kerangka teoritis.
            Dalam penjelasan kausal, terdapat kondisi hubungan yang dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk kondisi, yaitu kondisi perlu (necessary condition), kondisi cukup (sufficient condition), serta kondisi cukup dan perlu (necessary and sufficient condition). Dalam kondisi perlu maka keberadaan sebuah variabel sebagai variabel penyebab merupakan keharusan agar variabel akibat bisa terjadi. Namun variabel penyebab itu bukan merupakan satu-satunya variabel yang bisa menyebabkan variabel lain terjadi. Masih banyak variabel lain yang bisa memunculkan variabel akibat. Namun jika variabel penyebab tadi dihilangkan, maka variabel akibat menjadi hilang atau tidak akan pernah bisa muncul.

b. Bentuk penjelasan lain adalah penjelasan struktural. Pola yang digunakan dalam teori ini adalah pola hubungan antar jaringan yang terdapat di dalam sebuah sistem. Teori ini mengaitkan fungsi-fungsi dan pola-pola di dalam sebuah sistem hubungan sosial. Bukan hubungan sebab akibat yang dimunculkan, namun lebih pada hubungan yang logis sebagai akibat adanya keterkaitan fungsional. Misalnya saja kita akan membahas mengenai mengapa sekarang ini banyak anak-anak yang seharusnya bersekolah namun justru banyak berkeliaran di perempatan-perempatan lampu merah. Dalam menjelaskan gejala ini bukan dicari penyebabnya, namun dikaitkan dengan kondisi perekonomian orang tua yang rendah, sistem sosialisasi yang negatif, serta mahalnya kebutuhan-kebutuhan hidup dan terutama biaya sekolah. Faktor-faktor yang disebutkan tadi merupakan gejala-gejala yang saling berkaitan satu dengan yang lain.

c. Bentuk penjelasan yang terakhir adalah penjelasan interpretatif. Dalam pola hubungan ini yang diutamakan adalah segi pemaknaan dan pemahaman. Dalam melihat sebuah gejala, bukan lagi dilihat dari apa faktor yang menyebabkan, namun lebih dilihat dari apa sesungguhnya makna yang ingin ditampilkan dari gejala tersebut yang dikaitkan dengan konteks sosial yang spesifik. Dalam pola ini teknik empati ebih berperan dalam upaya menjelaskan sebuah gejala. Kita berusaha menangkap dan memahami secara utuh dan menyeluruh akan apa yang sedang terjadi.

SUMBER BUKU MATERI POKOK SOSI4201/4SKS/MODUL 1
TEORI SOSIOLOGI KLASIK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons