Comte

Auguste Comte (1798-1857)
            
Prancis bisa merasa bangga bahwa telah melahirkan anak bangsa seperti Auguste Comte yang kemudian dikenal sebagai pencetus sosiologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji tentang masyarakat. Karya-karya Comte yang dikenal dengan posotivisme atau filsafat positif (positive philosophy) pada dasarnya merupakan sebuah reaksi atas ekses negatif akibat Revolusi Prancis (1830-1842/1855) dan Enlightenment. Beberapa gagasan Comte tentang keteraturan masyarakat dapat dilihat dari dua hal. Pertama, kehidupan masyarakat tidak mungkin kembali seperti pada masa the middle ages. Kedua, ia lebih mengembangkan sistem teoritis dari pada apa yang pernah dilakuakan para pendahulunya.
            
Comte mengembangkan fisika sosial (social physics), yang kemudian pada tahun 1822 dikenal sebagai sebutan “sosiologi” untuk mengatasi kekacauan kehidupan masyarkat Perancis sebagai dampak revolusi Perancis. Konsep utama Comte yang digunakan sebgai upaya mengkaji masyarakat adalah konsep statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Statika sosial berkaitan dengan keberadaan struktur sosial, sedangkan dinamika sosial lebih mengarah pada penjelasan mengenai perubahan ssosial yang terjadi di dalam masyarakat. Comte berpendirian bahwa meskipun kedua hal tersebut sama-sama mengupayakan pencarian hukum-hukum kehidupan sosial, tetapi kajian terhadap dinamika sosial lebih penting daripada statika sosial. Perhatiannya terhadap perubahan sosial difokuskan pada penciptaan reformasi sosial sebagai jalan keluar dari kondisi kehidupan masyarakat yang dianggap kurang kondusif yang muncul akibat revolusi Perancis dan Masa Pencerahan. Comte sendiri tidak menghendaki adanya perubahan sosial dalam bentuk revolusioner, karena ia berkeyakinan bahwa evolusi yang lebih alamiah dalam masyarakat akan menghasilkan kondisi yang kebih baik. Reformasi dibutuhkan dalam upaya membantu berjalannya proses perubahan sedikit demi sedikit.
            
Pemikiran Comte tentang perubahan masyarakat tersebut, tertuang dalam teori evolusinya yang dikenal dengan hukum tiga tahap (law of the three stages). Teorinya itu mengungkapkan bahwa masyarakat mengalami perubahan melalui tiga tahap intelektual. Bahkan menurut Comte, tidak saja masyarakat yang mengalami perubahan melalui tiga tahap intelektual, tetapi juga pada tahap individu, kelompok, komunitas, dan ilmu pengetahuan. Tahapan tersebut diawali dengan tahapan teologis (theological stages), tahap metafisik (metaphysical stage), kemudian tahap positivistik (positivistic stage).
            
Penjelasan Comte tersebut meninjukkan bahwa Comte lebih menekankan kepada faktor intelektual. Pentingnya faktor intelektual dalam pandangan Comte adalah karena ia beranggapan bahwa kekacauan intelektual (intellectual disorder) dapat berakibat pada terjadinya kekacauan sosial (social disorder). Dengan demikian, ketika telah terjadi perubahan intelektual sampai tahap positivistik, maka dengan sendirinya akan tercipta tatanan sosial yang baik (social order) sehingga tidak diperlukan lagi, menurut Comte, adanya revolusi di bidang sosial atau pun politik. Untuk mencapai tahap tersebut, Comte menciptakan sosiologi dengan harapan masa positivisme akan datang, dan bersamaan dengan  itu maka kondisi masyarakat akan tertata dengan baik.
            
Pemikiran Comte tersebut sangat signifikan terhadap perkembangan teori sosiologi klasik, di mana ia telah meletakkan dasar-dasar konservatisme, reforrmisme, scientisme, dan evolusioneristik. Ia juga menggagas dalam sosiologinya, bahwa fokus utama dalam kajian sosiologi adalah bukan pada individu melainkan pada keloompok  atau yang kesatuan yang lebih besar seperti keluarga. Hal penting lainnya adalah gagasannya dalam melihat keterkaitan di antara komponen-komponen pembentuk masyarakat, yang kemudian menjadi dasar pemikiran bagi Herbert Spencer dan Talcott Parsons (Ritzer 1996:15). Comte pula yan menggagas bahwa dalam sosiologi perlu menekankan bahwa keterkaitan antara konsep-konsep yang abstrak, bersifat teoritis, dengan dunia empiris. Oleh karenanya diperkukan adanya riset sosiologis yang lebih menekankan pada kegiatan observasi, eksperimen, dan analisis sejarah secara komparatif. Akhirnya sampai pada pandangan Comte yang bersifat elistis, di mana ia mengatakan bahwa sosiologi pada akhirnya akan menjadi satu kekuatan ilmu pengetahuan yang dominan karena kemampuannya yang khas dalam menginterpretasi hukum-hukum sosial, dan mengembangkan perangkat rencana perubahan yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu masyarakat.
            
SUMBER BUKU MATERI POKOK

SOSI4201/4SKS/MODUL2

Teori Sosiologi Klasik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons

Sistem Politik