Estimasi dan Hipotesis


            Pengertian estimasi, sesungguhnya bukan merupakan satu hal yang asing dalam kehidupan manusia, termasuk Anda. Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kita akan melakukan estimasi. Coba Anda ingat  lagi, apakah Anda pernah melakukan estimasi? Baik, saya akan mencoba membantu Anda untuk mengingat. Pernahkah Anda menduga siapakah yang akan memenangkan pertandingan final sepak bola antara Belanda dan Italia. Pernakah Anda menduga apakah Anda akan lulus mata kuliah pengantar statistik sosial? Masih banyak lagi contoh pendugaan, yang tentunya Anda lebih tahu. Nah sesungguhnya, Anda sudah melakukan suatu estimasi. Dengan demikian, secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa estimasi adalah pendugaan. Estimasi akan kita pakai sebagai dasar uktuk kita melakukan suatu keputusan. Dalam statistik, estimasi dikatakan sebagai salah satu cara untuk mengemukakan pernyataan induktif (menyatakan karakteristik populasi dengan menggunakan karakteristik yang didapat dari sampel)

            Lalu apa yang dimaksud dengan uji hipotesis? Apa perbedaan antara uji hipotesis dengan estimasi? Memang benar bahwa baik estimasi maupun uji hipotesis adalah sama-sama pendugaan terhadap parameter populasi. Namun demikian, ada perbedaan yang mendasar anatara estimasi dan uji hipotesis. Apabila dalam estimasi, kita menduga kenyataan yang ada di tingkat populasi dengan memakai data di sampel maka uji hipotesis lebih ditujukan untuk membuat suatu pertimbangan tentang perbedaan antara nilai statistik di sampel dengan nilai parameter populasi.


            Dengan adanya perbedaan nilai tersebut maka dalam pengujian hipotesis, kita diperkenalkan dengan suatu hipotesis, yang disebut sebagai hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Sebagai contoh, seorang peneliti yang sedang melakukan penelitian di suatu desa menanyakan mengenai rata-rata usia responden, di mana ternyata rata-rata usia responden adalah 32. Sebelum peneliti tersebut melakukan penelitian, ia mengumpulkan data sekunder di kelurahan. Dari data sekunder tersebut, peneliti menemukan bahwa rata-rata usia penduduk yang masuk dalam karakteristik sampel adalah 30. Nah, tentu timbul pernyataan dalam diri peneliti, mengapa terdapat perbedaan data antara data yang ada di tingkat sampel (32) dengan data yang ada di tingkat populasi (30)? Untuk menjawab keingintahuan tersebut maka si peneliti akan melakukan suatu pengujian yang kita kenal dengan pengujian hipotesis.

            Apakah anda sudah melihat dengan jelas perbedaan antara estimasi dan uji hipotesis? Apabila kita simpulkan, estimasi adalah suatu langkah untuk melakukan pendugaan terhadap parameter populasi yang belum diketahui, dengan memakai data statistik yang ada di tingkat sampel. Uji hipotesis adalah suatu langkah pendugaan terhadap niai parameter yang sudah diketahui, dengan membandingkan pada data statistik yang ada di tingkat sampel.

            Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa esimasi adalah pendugaan. Estimasi akan kita pakai sebagai dasar untuk kita melakukan suatu keputusan. Dalam melakukan estimasi, kita memakai beberapa estimator. Estimator adalah statistik yang digunakan untuk meakukan estimasi parameter populasi. Seorang peneliti melakukan estimasi rata-rata di tingkat populasi dengan memakai data rata-rata ti tingkat sampel.

            Dalam statistik, dikenal ada 2 jenis estimasi, yaitu estimasi titik dan estimasi interval. Estimasi titik adalah suatu nilai tunggal yang dihitung berdasar pengukuran sampel yang akan dipakai untuk menduga nilai tunggal yang ada di tingkat populasi, yang belum kita ketahui. Kita bisa memakai nilai rata-rata atau mean sebagai estimator, standar deviasi, maupun variance. Estimasi titik terhadap proporsi adalah pendugaan terhadap sesuatu hal yang proporsi populasinya tidak kita ketahui. Estimasi interval adalah suatu estimasi terhadap parameter populasi dengan memakai range (interval nilai).

            Hipotesis adalah jawaban teoretis atas permasalahan yang dihadapi peneliti. Setelah kita membuat hipotesis, kita melakukan pengumpulan data empiris dan setelah data empiris terkumpul maka kita akan membuat suatu keputusan dengan kemungkinan mempertahankan hipotesis atau merevisi hipotesis. Cara yang kita lakukan untuk mengambil keputusan didasarkan pada uji statistik.

            Uji hipotesis lebih ditujukan untuk membuat suatu pertimbangan tentang perbedaan antara nilai statistik di sampel dengan nilai parameter populasi. Dengan adanya perbedaan nilai tersebut maka dalam pengujian hipotesis, kita akan diperkenalkan dengan suatu hipotesis yang disebut sebagai hipotesis null (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha).

            Dalam melakukan pengujian hipotesis, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu merumuskan hipotesis null dan hipotesis alternatif, memilih uji statistik yang sesuai, menentukan taraf signifikansi (alpha), melakukan perhitungan, serta mengambil kesimpulan. Penentuan besar-kecilnya alpha yang akan kita berikan, terkait erat dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada saat pengambilan keputusan. Ada 2 kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi, yaitu kita menolak Ho, padahal hal Ho itu benar (disebut galat I), dan kesalahan kedua adalah kita menerima Ho, padahal Ho itu salah (disebut galat II).

            Dalam melakukan pengujian hipotesis, ada beberapa bentuk, yaitu uji hipotesis untuk rata-rata dan uji hipotesis untuk proporsi. Baik uji hipotesis rata-rata maupun proporsi, dikenal adanya uji satu sisi dan uji hipotesis rata-rata maupun proporsi. Dikenal adanya uji satu sisi dan uji dua sisi. Uji satu sisi digunakan bila kita membuktikan apakan data yang sebenarnya kurang dari atau lebih dari data di populasi, sedangkan uji dua sisi digunakan apabila kita membuktikan apakah data sebenarnya tidak sama dengan data di populasi.

ESTIMASI TITIK

            Estimasi titik adalah suatu nilai tunggal yan dihitung berdasarkan pengukuran sampel yang akan dipakai untuk menduga nilai tunggal yang ada di tingkat populasi yang kita ketahui. Sebagai estimator, kita bisa memakai nilai rata-rata, standar deviasi, maupun variance. Ketiga pengukuran tersebut merupakan estimator yang baik karena cara pembentukan rata-rata sampel dari sejumlah sampel sama dengan cara pembentukan rata-rata populasi. Secara sederhana bisa kita katakan bahwa rata-rata dari rata-rata sejumlah sampel akan sama nilainya dengan rata-rata di populasi (distribusi sampling). Tenyata dari hasil penelitian tersebut diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 6.1
Rata-rata nilai yang didapat
Kelompok (Sampel)
Jumlah responden
Nilai Rata-rata
I
20
9
II
20
8
III
20
9
IV
20
8
V
20
6


            Berdasar Tabel 6.1 kita tahu behawa kelompok I terdiri dari 20 orang, demikian pula kelompok lainnya. Dari 20 orang dalam tiap kelompok dihitung rata-rata nilai yang didapat. Kemudian, kita coba menghitung rata-rata yang didapat oleh setiap kelompok. Nah, rata-rata dari kelima kelompok itu, cenderung akan menyamai rata-rata dari 100 orang peserta tersebut (populasinya). Dengan demikian, kita dapat menduga bahwa rata-rata di tingkat populasi adalah (9+8+9+8+6):5=8.

ESTIMASI INTERVAL

            Estimasi interval adalah suatu estimasi terhadap parameter populasi dengan memakai range (interval nilai). Berbeda dengan estimasi titik yang hasilnya merupakan suatu angka mutlak (angka pasti) maka estimasi interval merupakan sekumpulan angka, yang kita duga salah satunya adalah nilai yang kita cari. Dengan demikian, sesungguhnya estimasi titik merupakan hasil pendugaan yang lebih akaurat.

            Pertanyaan sekarang adalah mengapa kita melakukan estimasi interval? Jawabnya adalah apabila kita melakukan estimasi  interval maka hasil pendugaan kita akan lebih objektif. Kita juga dapat menyatakan berapa besar tingkat kepercayaan kita bahwa interval yang terbentuk memang mengandung nilai paarameter yang kita duga. Tingkat kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan peluang membuat kesalahan dalam menentukan interval dan dinyatakan dalam bentuk persentase.

            Bicara tentang interval kepercayaan (confidence interval) maka dalam ilmu sosial, interval kepercayaan yang sering dipergunakan adalah 90%, 95%, atau 99%. Pada dasarnya seorang peneliti bebas menentukan berapa besar interval kepercayaan yang akan diergunakan. Pertimbangannya adalah dengan semakin besar tingkat kepercayaan yang diberikan makam semakin  tinggi pula tingkat kepercayaan bahwa parameter populasi yang diestimasi terletak dalam interval yang terbentuk, namun penelitian itu menjadi semakin tidak diteliti.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

ISIP4215/3SKS/MODUL6

PENGANTAR STATISTIK SOSIAL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons