George Simmel
A.
KESADARAN INDIVIDU
Pada tingkat individu, Simmel memfokuskan pada
bentuk-bentuk asosiasi dan hanya memberi sedikit perhatian saja pada isu
mengenai kesadaran individu (individual consciences). Secara tegas, Simmel mengasumsikan
bahwa makhluk manusia itu pasti memiliki kesadaran yang sifatnya sangat kreatif
di mana kehidupan sosial ini haruslah dilaNdasi oleh hubungan timbal balik
antara kesadaran individu atau kelompok individu atas dasar adanya motif,
tujuan, dan kepentingan yang membuat individu dan kelompok individu menjadi
anggota masyarajat di dalamnya (Frisby, 1984):
Berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kreativitas
individu merupakan perwujudan dari bentuk-bentuk interaksi yang menunjukkan
kemampuan individu untuk menciptakan struktur-struktur sosial .
struktur-struktur sosial tersebut, memberi dampak negatif sangat besar pada
struktur-struktur kreativitas individu. Semua argumentasi Simmel mengenai
bentuk-bentuk interaksi menunjukkan bahwa para pelaku (orang-orang) harus
secara sadar saling berhubungan, berinteraksi, dan saling memperhatikan. Mereka
harus menyadari kehadiran masing-masing di sekeliling mereka.
Misalnya interaksi di dalam sebuah sistem yang sudah
terstratifikasi di mana superordinasi dan subordinasi di dalamnya membutuhkan
orientasi satu sama lain. ini harus disadari bahwa interaksi itu akan mandeg
dan hancur manakala proses orientasi (yang bersifat timbal balik ) itu
berhenti. Bagi Simmel, proses itu berlaku bagi semua bentuk interaksi (Ritzer,
1996).
B.
ASOSIASI
Simmel memang sangat
dikenal dalam khasanah sosiologi karena kontribusinya atas berbagai pemahaman
mengenai bentuk dan pola berbagai interaksi sosial. Perhatiannya pada bentuk
dan pola interaksi sosial diungkapkan melalui upayanya dengan menjelaskan
proses microscopic-molecular atau molekul-molekul mikro yang ada di dalam tubuh
manusia. Molekul-molekul mikro itulah, menurutnya, yang membentuk unit-unit dan
sistem yang padu dan solid yang mengacu kepada berbagai aktivitas atau tindakan
konkret, yang menyangkut kejadian-kejadian aktual dalam kehidupan keseharian.
Misalnya timbulnya rasa iri, dengki, atau cemburu yang terjadi antara satu
orang kepada orang lain.
Memang, tidak semua kejadian-kejadian itu menyentuh
kepentingan keseharian yang sangat nyata dan jelas, yang dapat menyebabkan
pertikaian. Namun, sesungguhnya kejadian-kejadian itu menimbulkan berbagai
tindakan yang bersifat alturistik, yaitu tindakan yang mengutamakan kepentingan
orang lain daripada kepentingan sendiri. Tindakan alturistik memang dapat
menyatukan dan mempererat ikatan yang terjalin di antara individu-individu ,
meskipun hal itu, sebenarnya hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh relasi
atau rentang hubungan antar individu.
Menurut Ritzer (1996), dalam analisisnya itu, Simmel
memilih beberapa fenomena yang mengelompok dan spesifik dari realitas yang
selalu berubah-ubah. Ia lalu melakukan kajian atas peningkatan jumlah
elemen-elemen di dalamnya untuk mengungkap penyebab terjadinya ikatan atau
hubungan-hubungan yang logis dengan cara menjelaskan bentuk-bentuk hubungan
itu. Simmel selanjutnya melakukan investigasi dari bentuk-bentuk hubungan serta
memaparkan implikasi dari bentuk-bentuk dan struktur-strukturnya.
C.
INTERAKSI
Salah satu fokus
kajian Simmel adalah form dan content. Perhatiannya itu sebenarnya merupakan
dampak dari identifikasi itu, pada akhirnya, menciptakan perbedaan antara form
dan content di dalam realitas. Menurut Simmel, masalahnya sederhana saja, yaitu
bahwa dunia atau realitas ini sebenarnya terdiri dari berbagai kejadian yang
tidak dapat dihitung karena jumlah (kejadian-kejadian) itu tidak terhingga.
Untuk mengatasi kemungkinan hilangnya salah satu aspek karena kesimpangsiuran
dan bercampurnya berbagai aspek dari berbagai kejadian ini maka orang-orang
lalu menyusunnya dengan menciptakan pola-pola tertentu.
Simmel tidak menggunakan metode yang spesifik untuk mengidentifikasi
dan menyusun berbagai kejadian tadi. Ia hanya mengharuskan orang-orang
berhadapan dengan sejumlah bentuk yang sangat terbatas. Tugas para ahli
sosiologi adalah membenahi secara benar dan tepat apa yang dilakukan oleh
orang-orang yang dianggap Simmel amatiran itu yang hanya mampu menerima sedikit
saja bentuk realitas sosial dan berbagai interaksi yang terjadi di dalamnya.
Dengan cara ini, menurutnya memungkinkan untuk dilakukan analisis atau kajian
(oleh para ahli sosiologi tadi) secara lebih baik lagi. Contohnya adalah
bentuk-bentuk hubungan atau interaksi antara atasan dan bawahan
(superordination and subordination) yang ditemukan di dalam berbagai organisasi
seperti organisasi kenegaraan, komunitas keagamaan, ikatan konspirasi,
organisasi yang bergerak pada sektor
ekonomi, pendidikan, dan juga di dalam keluarga.
D.
DYAD, TRIAD, DAN HUBUNGAN SOSIAL
Di dalam konsep
sosiologi yang dkemukakannya, Simmel berupaya mengembangkan konsep ‘geometry’
dari berbagai interaksi sosial. Ketertarikan Simmel pada dampak interaksi yand
dilakukan sejumlah orang, terlihat pada argumennnya yang membedakan antara dyad
(kelompok yang terdiri dari dua orang) dan triad (kelompok yang terdiri dari
tiga orang). Bagi Simmel, perbedaan itu sangat krusial, karena penambahan orang
ketiga pada dyad akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar dan radikal
pada kelompok tersebut. Hal serupa berlaku juga pada triad di mana menambahkan
satu anggota ke dalam kelompok tiga akan memberikan akibat yang sama
sebagaimana penambahan orang ketiga pada kelompok dua.
Triad cenderung
menekankan kepada peran kelompok daripada individu sehingga, sepertinya hal ini
merupakan upaya dalam mengembangkan sebuah struktur kelompok yang independen.
Triad memang memiliki kemungkinan untuk memperoleh makna melebihi
individu-individu yang terlibat di dalamnya. Akibatnya, konsep individualitas
di sini terancam karena peran kelompok lebih dominan. Berbeda dengan triad,
dyad tidak akan memiliki makna manakala jumlah anggota di dalamnya lebih dari
dua orang. Di dalam dyad tidak ada struktur kelompok independen. Semua tidak
bermakna sebagai kelompok kecuali hanya sekedar dua individu yang dapat
dipisahkan tetapi menyatu di dalamnya. Oleh karena itu, setiap anggota dari
dyad memiliki tingkat individualitas yang sangat tinggi. Jadi, individu di sini
tidaklah direndahkan derajatnya di dalam kelompok.
E.
UKURAN KELOMPOK DAN KEBEBASAN
Menurut Simmel,
meningkatnya ukuran (besarnya) kelompok, komunitas, atau masyarakat (akan)
menyebabkan kebebasan individu menjadi semakin besar. Kelompok (masyarakat)
kecil cenderung mengontrol akan mengendalikan individu secara mutlak. Tetapi,
di dalam kelompok masyarakat yang besar, individu itu justru cenderung
terlibat, atau tepatnya. Melibatkan diri ke dalam kelompok-kelompok tertentu di mana
masing-masing kelompok itu hanya mengontrol atau mengendalikan sebagian kecil
saja dari individu-individu yang ada di dalamnya. Dengan kata lain,
tindakan-tindakan yang dilakukan individu, secara umum dapat meningkatkan
kehidupan sosial baik secara kuantitatif maupun kualitatif, termasuk di dalamnya
meningkatnya kehidupan individu-individu itu sendiri.
Hanya saja, manakala masyarakat semakin besar maka hal
itu akan menimbulkan masalah-masalah baru terutama yang dapat mengancam
kebebasan individu. Misalnya kita melihat kumpulan massa yang berbentuk karena
didominasi atau dipengaruhi oelh suatu ide, gagasan, atau paham teretentu.
Kedekatan secara fisik antara
orang-orang yang berada di dalam kelompok itu membuat mereka dapat
dipengaruhi begitu saja dan cenderung untuk mengikuti ide-ide ataupun
gagasan-gagasan yang sederhana sekalipun, meskipun ide atau gagasan itu mungkin
tidak masuk akal. Inilah yang sesungguhnya dapat menimbulkan tindakan-tindakan
emosional dan cenderung anarkis.
F.
DISTANCE DAN THE STRANGER
Simmel juga mengkaji
jarak atau distance. Menurut Simmel (Ritzer, 1996), fungsi distance dalam kaitan
dengan interaksi sosial merujuk pada
realitas dan makna yang menggambarkan ‘jarak yang bersifat relatif’ atau ‘jarak
relatif’ (relative distance). Relative distance ini tercipta antara individu dengan
individu atau antara individu dengan benda. Fokus atau perhatiannya mengenai
konsep distance dijelaskan melalui karyanya The Philosophy of Money dan karya
lainnya yang dianggap brilian yaitu The Stranger. Di dalam kedua karyanya itu,
simmel membahas mengenai jarak tetapi dalam konteks yang berbeda.
Di dalam The Philosophy of Money, Simmel menjelaskan bebrerapa
prinsip umum yang menyangkut nilai (value) termasuk juga unsur-unsur yang
membuat benda-benda itu menjadi berharga yang merupakan prinsip-prinsip dasar
atas analisisnya mengenai uang. Menurut Simmel, nilai hakiki dari sesuatu (the
value of something) dapat dilihat dari (adanya) jarak antara benda yang
bersangkutan dengan orang (the actor). Suatu benda menjadi (sangat) tidak
berharga manakala kita memperoleh benda itu dengan mudah, tanpa suatu perjuangan.
Apalagi bila keberadaan benda itu ada disekitar kita. Sebaliknya, suatu benda
akan ada harganya, bila benda itu jaraknya sangat jauh, sehingga terlalu sulit
untuk diperoleh karena terlalu sulit untuk diraih.
G.
ORANG MISKIN DAN KEMISKINAN
Salah satu fokus
kajian Simmel terkait dengan realitas sosial adalah the poor (orang-orang
miskin). Simmel mendefinisakan orang miskin, dalam konteks hubungan-hubungan
sosial, sebagai pihak yang diberi bantuan oleh pihak lain, atau sebagai pihak
yang mempunyai hak untuk dibantu. Di sini, Simmel tidak secara tegas mengatakan
bahwa poverty (kemiskinan atau kemelaratan) itu merujuk pada konsep yang
kuantitatif, yaitu kekurangan uang. Simmel memfokuskan the poor sebagai
kemiskinan dalam konteks karakteristik hubungan dan pola-pola interaksi, ia
juga menerapkan konsep dan argumen-argumennya itu di dalam tulisannya ‘The
Poor’. Tujuannya untuk mengembangkan dan memperluas konsep dan pemahamannya
mengenai the poor dan poverty.
Sudah menjadi ciri Simmel untuk memperkaya gagasan,
pemikiran, dan konsepnya di dalam tulisan-tulisannya; memang dengan cara itulah
Simmel menjadi terkenal. Contohnya, Simmel menganggap bahwa tatanan atau
hubungan timbal balik antara hak dan kewajiban merupakan hubungan antara mereka
(orang-orang) yang membutuhkan bantuan (orang-orang miskin) dengan mereka yang
mampu (orang-orang kaya). Mereka yang miskin dan memerlukan bantuan memang
berhak untuk menerima bantuan dan hak inilah yang membuat mereka tidak sakit
hati atau merasa terhina manakala mereka menerima bantuan. Sebaliknya, para
pemberi bantuan (yang kebanyakan orang-orang kaya itu) memiliki kewajiban dalam
membantu si miskin yang memang memerlukan bantuan. Sebaliknya, para pemberi
bantuan ( yang kebanyakan orang-orang kaya itu) memiliki kewajiban dalam
membantu si miskin yang memang memerlukan bantuan. Untuk ini ia meminta
masyarakat untuk membantu menciptakan dan memelihara sistem yang dilandasi
dengan konsep hak dan kewajiban tadi. Masyarakat, khususnya mereka yang mampu,
sudah seharusnya membantu mereka yang miskin dan tidak mampu sehingga
orang-orang miskin itu tidak akan menjadi agresif dan menjadi musuh yang
berbahaya bagi masyarakat
luas.
H.
SUPERORDINASI, SUBORDINASI, DAN HUBUNGAN SOSIAL
Di dalam konsep
sosiologi yang dikemukakannya, Simmel juga membahas mengenai dominasi yang
digambarkan melalui ‘superordinasi’ (superordination) dan ‘subordinasi’
(subordination). Hubungan antara atasan (superordinasi) dan bawahan
(subordinasi) pada dasarnya memiliki atau
menggambarkan hubungan yang bersifat timbal balik (reciprocal relationship). Di
sini, pimpinan atau atasan tidak ingin mengetahui semua gagasan, pemikiran,
ide-ide, serta tindakan-tindakan orang lain. pimpinan hanya berharap bahwa
bawahan itu (akan) bereaksi, baik secara positif maupun negatif, atas interaksi
yang terjadi.
Setiap bentuk interaksi sebenarnya tidak dapat eksis
tanpa adanya hubungan baik antara kedua belah pihak. Bahkan di dalam
bentuk-bentuk dominasi yang brutal dan kejam, bawahan setidaknya masih memiliki
sedikit kebebasan. Bagi kebanyakan orang, superordinasi melibatkan upaya-upaya
untuk benar-benar melenyapkan kemandirian dari para bawahan. Bagi Simmel,
seseorang dapat saja menjadi bawahan pihak lain, baik dari seseorang, dari
kelompok, ataupun dari kekuatan-kekuatan lain. hanya saja, suatu hubungan
sosial haruslah dihentikan manakala mulai ada indikasi adanya upaya
penghilangan kebebasan individu. Pertikaian antara kelompok oposisi dan
kelompok penguasa akan lebih mudah untuk diselesaikan manakala pihak-pihak yang bertikai tetap berdiri dengan kekuatan atau kewenangan
yang setara.
I.
STRUKTUR SOSIAL
Sebenarnya, tidak
banyak bahasan Simmel mengenai struktur-struktur kemasyarakatan (social
structures) dalam skala luas. Ia memfokuskan kajiannya pada pola-pola interaksi
yang terjadi di dalam kehidupan sosial dan menolak eksistensi
tingkatan-tingkatan di dalam realitas sosial. Salah satu contohnya adalah upayanya dalam mendefinisikan society
(masyarakat) di mana ia menyatakan ketidaksetujuannya dengan konsep yang
diajukan kaum realis dalam melihat society seperti yang dikemukakan oleh
Durkheim.
Durkheim menyatakan bahwa society itu nyata dan merupakan
entitas material. Simmel menolak konsep itu, dan menganggap bahwa society bukan
merupakan sebuah benda atau organisme. Simmel juga merasa sangat tidak nyaman
dengan konsep yang diajukan oleh kaum nominalis yang menyatakan bahwa
masyarakat (society) itu tidak lebih dari sekedar kumpulan orang-orang yang
terisolasi. Atas semua itu, Simmel mengambil jalan tengah dengan menyatakan bahwa
society (masyarakat) itu merupakan suatu tatanan interaksi yang semata-mata
hanya sebuah nama atau istilah belaka dari sejumlah orang yang dihubungkan
melalui interaksi. Meskipun Simmel menjelaskan dalam posisinya sebagai seorang
interaksionis, tetapi di dalam konsep-konsepnya ia berperan sebagai seorang
realis dan mengemukakan konsep-konsep yang (sangat) realistik.
Dalam meletakkan dasar-dasar sosiologi sebagai suatu
disiplin ilmu yang independen, Simmel dihadapkan pada masalah-masalah yang
menyangkut demarkasi (pemisahan) sosiologi dari psikologi. Sosiologi, dalam
pandangan Simmel, merupakan ilmu yang baru muncul dan bersifat elektif, yaitu
sebagai produk dari ilmu-ilmu pengetahuan lain dan membentuk (disiplin) ilmu
tersendiri.
Bagi Simmel, masyarakat (society) itu tidak semata-mata
berada ‘di luar sana’ tetapi juga merupakan ‘perwujudan dari diri saya’. Ini
memang merupakan suatu ketergantungan kepada aktivitas kesadaran individu
karena kesadaran individu itu pada hakekatnya dipengaruhi oleh norma-norma
sosio-kultural.
Simmel memang sangat dikenal dalam khasanah sosiologi
karena kontribusinya atas berbagai pemahaman mengenai bentuk dan pola berbagai
interaksi sosial. Salah satu fokus utama Simmel adalah interaksi, Simmel
menyebutnya asosiasi (association), yaitu interaksi yang terjadi di antara
orang-orang yang sadar akan (kehadiran) orang lain di sekelilingnya. Konsep
interaksinya itu benar-benar melihat berbagai hubungan (sosial) yang kadang
(dianggap) tidak begitu penting pada saat tertentu, tetapi menjadi sangat
penting pada saat lain.
SUMBER BUKU MATERI POKOK
SOSI4201/4SKS/MODUL9
TEORI SOSIOLOGI KLASIK
Komentar
Posting Komentar