Husserl

Filsafat sebagai rigorous sains

Fenomenologi Husserl pada dasarnya ingin sampai pada apa yang disebut dengan filsafat sebagai pengetahuan yang solid (philosophy as rigorous science). Dalam hubngannya dengan tujuan ini, Husserl mengatakan bahwa filsafat sejak kemunculannya di Yunani senantiasa bercita-cita menjadi suatu pengetahuan yang mencakup semua usaha pengenalan manusia, dalam arti melihat dan memberi makna atas segala sesuatu yang ada. Dengan demikian filsafat tidak mempersoalkan perasaan. Artinya, filsafat tidak membicarakan bangunan khayalan dari suatu sistem menurut pandngan yang subjektif. Semua babakan budaya dan sistem berikhtiar untuk merealisasikan tujuan esensial filsafat ini dengan caranya masing-masing. Husserl dengan serius berusaha mencapai tujuan ini melalui fenomenologi. Dengan melancarkan kritik yang solid dan investigasi yang sistematis, fenomenologi berusaha meraih keabsahan yang meyakinkan atas semua hal.

A. BERSIKAP ALAMIAH (THE NATURAL ATTITUDE)

            Menurut Husserl kita harus membuat perbedaan yang jelas antara filsafat dengan pengetahuan non-filsafat Pengetahuan non-filsafat (sains) terlahir dari “sikap alamiah” sementara pengetahuan fisafat lahir dari sebuah sikap berpikir yang keseluruhannya berbeda, yakni sebuah sikap filosofis. Pada :sikap alamiah”, persepsi dan pikiran manusia seluruhnya dikembalikan pada benda-benda tersebut sampai kepada kita sebagai sesuatu yang jelas dan tidak dapat disangsikan lagi bahkan terlepas dari pendirian kita masing-masing. Benda-benda misalnya, nampak dihadapan subjek, saat seperti ini atau seperti itu. Di antara seluruh tindakan kita yang mengacu kepada benda-benda, persepsi (terhadap benda) adalah sesuatu yang paling asli. Persepsi apa pun yang hadir pada kita, kita ungkapkan dalam berbagai putusan atau pernyataan, yaitu putusan tunggal dan putusan universal. Dari putusan-putusan ini, melalui induksi dan deduksi, kita memperoleh sebuah pengetahuan baru. Dengan cara ini pula, pengetahuan mendapatkan kemajuan.

B. INTUISI ASLI

            Dalam pandangan Husserl, fondasi tertinggi dari semua rasionalitas yang kita miliki kita dapat  mempertajam, dengan segera “intuisi asli” atas benda-benda itu sendiri pada saat kita ingin membuat sebuah keputusan, proposisi, atau pernyataan. Dia menyebutnya “kembali kepada bendanya itu sendiri “ (zu den sachen selbst), artinya kita dengan segera harus kembali kepada data yang asli dari kesadaran kita. Kesadaran yang menyatakan dirinya sendiri sebagai “kehadiran bendawi” yan apodiktif evident atau benar begitu saja dan tidak perlu dibuktikan lagi. Kesadaran tidak memerlukan fondasi lebih lanjut karena ia telah benar dan pasti.

C. REDUKSI EIDETIS

            Husserl membedakan proses reduksi itu menjadi dua, yaitu pertama reduksi eidetis dan kedua tahap penyaringan yang lebih komlpeks yang disebut dengan reduksi fenomenologis. Reduksi fenomenologis membersihkan kita dari dunia realitas yang menjadi anggapan tertinggi para ilmuan. Sedangkan reduksi eidetis mengeluarkan kita dari esensi-esensi umum atau realitas faktawi. Reduksi eidetis adalah prosedur metodis di mana kita mengungkap pengetahuan dari tingkat faktawi menjadi bentuk idea. Esensi atau idea yang Husserl maksudkan di sini bukan “generalitas empiris” yang menyebabkan kita kehilangan hubungan dengan berbagai tipe pengalaman, tetapi “generalitas murni” yang kita letakkan sebelum kemungkinan pikiran murni kita secara sah terbebas dari pengalaman.

D. REDUKSI FENOMENOLOGIS

            Husserl lebih lanjut menjelaskan bagaimana reduksi fenomenologis itu menyatakan kepstiannya. Berkenaan dengan persoalan ini, Husserl mulai menjelaskan suatu konsep dan prinsip “intensionalitas”. Gurunya, Franz Brentano orang yang tidak akrab dengan filsafat Aristotelian telah memperkenalkan konsep ini kepada psikologi modern. Dalam filsafat Aristotelian , intensional ini menagandaikan adanya orientasi dan harmoni pikiran terhadap objeknya. Objek ini mulai hadir pada jalan intensionalitas pikiran. Intensionalitas bukan konsep yang bersifat psikis semata. Tetapi sebenarnya ingin mengatakan bahwa semua kesadaran itu sifatnya intensional dan memaklumi jika kita mengatakan bahwa semua kesadaran adalah, sadar akan sesuatu.

Intensionalitas

            Telah kita jelaskan sebelumnya bahwa intensionalitas itu merupakan ciri dari karakter kesadaran kita. Intensionalitas selalu mengarahkan kesadaran kepada bendanya itu sendiri. Penjelasan ini perlu diuraikan lebih lanjut sehingga seseorang dapat memahami bahwa, menurut Husserl, intensionalitas ini akan mendorong kesadaran untuk mengadaptasi dirinya secara pasif terhadap sesuatu yag bertolak belakang dengannya atau berada di luar diirinya di dalam dunia yang sungguh-sungguh nyata. Hal ini tidak berarti Husserl ingin sampai pada gagasan bahwa kesadaran itu intinya cenderung kepada sesuatu yang bukan dirinya, tetapi dia hanya ingin mengatakan bahwa benda-benda itu mengandung esensi dari kesadaran kita untuk membentuk makna dan membangun objeknya sendiri.

Fenomenologi didirikan oleh Edmund Husserl dalam rangka mengkritisi filsafat positivisme. Fenomenologi memandang bahwa untuk mencapai pengetahuan yang benar, metode positivisme dianggap memiliki kekurangan, di antaranya menganggap remeh keterhubungan subjektif antara manusia yang memiliki kesadaran akan sesuatu dengan objek atau dunia disadari manusia. Dalam metode ilmiah positivistik, hubungan subjek-objek tersebut harus dieliminasi untuk mencapai objektivitas bahkan sedapat mungkin dihilangkan. Hal ini tidak mungkin karena bagaimana kita tahu benda itu objektif jika kita tidak pernah berhubungan sama sekali dengan benda itu sendiri. Dalam rangka menembalikan makna keterhubungan antara  subjek dengan objek ini, Husserl berusaha memberikan argumentasi  bahwa pengetahuan yang memperhatikan hubungan subjektivitas itu masih “ilmiah” karena sifatnya intuitif, murni, bersih, dan alamiah.

            Ada beberapa cara untuk mencapai pengetahuan yang solid yang diinginkan fenomenologi. Pertama cobalah bersikap alamiah. Sikap alamiah bukan sifat ilmiah yang cenderung memandang gejala manusia dengan objek itu sama persis dengan gejala alam semesta fisik. Sikap alamiah itu adalah sikap manusia yang mengedepankan kesadarannya secara intuitif dan langsung ketika berhubungan dengan objek atau benda-benda. Kedua lakukanlah pembersihan pada subjek dan objek sehingga prasangka generalitas empiris itu tidak ada sedangkan yang ada hanyalah generalitas murni yang ditangkap bukan oleh pancaindra semata tetapi oleh kesadaran murni manusia. Kesadaran murni itu sifatnya eidetic karena yang ingin dicari adalah eidos atau intisari yang tertangkap oleh kesadaran individu manusia.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

SOSI4202/3SKS/MODUL4

FILSAFAT SOSIAL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons