Husserl

            Menurut Merleau-Ponty (salah seorang tokoh fenomenologi Perancis), asal-usul fenomenologi dimulai dari Hegel (1770-1981). Hegel memperkenalkan usaha yang pertama untuk menyelidiki ranah irasional dan mengintegrasikannya ke dalam reason. Menurut Hegel, reason lebih berbengaruh dibanding dengan intellect. Reason ini menunjukkan bahwa dirinya sendiri memberi respek terhadap berbagai sikap psikis yang berbeda dalam diri manusia, terutama yang menganut berbagai peradaban, metode berpikir, dan kemungkinan sejarah (contingency of history). Reason tidak mengabaikan kewajibannya menemukan kesatuan dalam keberagaman dan mengerti segala sesuatu, serta tentu saja, menempatkan sesuatu dalam kebenarannya sendiri. Intellect, jika merujuk pada pemikiran Merleau-Ponty, adalah kesadaran yang cenderung idealis dan tertutup. Pengertian ini didasarkan pada kritiknya terhadap kesadaran Cartesian yang cenderung idealis dan tertutup.

            Gerakan fenomenologi sendiri mulai berkembang di Jerman pada awal abad kedua puluh dengan pelopornya Edmund Husserl . Istilah ‘gerakan’ tidak mengacu pada tindakan politik, sosial, atau seni (meaningful action), tetapi lebih merupakan istilah yang lebih dekat dengan konsep ‘aliran’ atau ‘mazhab’. Kata ‘gerakan’ menitikberatkan pada situasi di Mana fenomenologi sebagai sebuah aliran filsafat tidak statis tapi dinamis, senantiasa berubah dan berkembang sesuai konteks dan kebutuhan zaman.

            Tokoh pendahulu sebelum Edmund Husserl yang berjasa memunculkan wacana fenomenologi adalah Franz Bentano (1838-1917). Meskipun Barentano tidak mengaku bahwa dirinya seorang pakar fenomenologi, tetapi dia hidup cukup lama untuk melihat gerakan fenomenologi menyebar di tangan Husserl. Brentano juga berteman dengan Husserl, dan kerap kali berdiskusi dengannya seputar krisis metode ilmiah. Fakta lain mengatakan bahwa istilah ‘fenomenologi’ yang disebut oleh Husserl dalam suatu karya yang tidak dipublikasikan, berasal dari Brentano. Karya tersebut merupakan judul alternatif dari makalah yang dibuat untuk sebuah kursus tentang Psikologi Deskriptif, (Descriptive Psychology) di Universitas Wina pada tahun 1888-1889.

            Tokoh lain yang juga berjasa besar dalam membangun fondasi fenomenologi adalah Carl Stumpf (1848-1936). Stumpf menggunakan istilah fenomenologi secara permanen demi menandai bidang studi yang dia katakan penting dalam rangka me-‘Reinassance’ pola metode ilmiah positivistik. Stumpf sendiri merupakan pionir psikologi ekspemental, tetapi tidak dalam positivistik murni atau induktif naif. Ia menemukan adanya hubungan struktural di antara unsur-unsur material imajinasi dan besarnya peranan kesadaran dalam menangkap sesuatu yang umum dalam gejala yang spesifik. Kesadaran semacam ini mirip dengan sesuatu yang dalam ungkapan lama disebut sebagai ‘intuitive knowledge’. Lebih tepatnya dalam kasus Stumpf, ‘intuitive knowledge’ adalah sebagai operasi mental aktif dari manusia untuk  mendapatkan pengetahuan.

            Bagi Husserl, karakter filsafat kedua pendahulunya terlampau psikologis. Misalnya pada Brentano, meskipun ia telah sukses membedakan antara konsep fenomena psikis dengan fenomena fisik, tetapi karena Brentano mengatakan mengatakan bahwa semua fenomena psikis disifati oleh suatu aktivitas ‘mental’ yang mengarah kepada objek (intentional inexistence), maka semua fenomena psikis pastilah berisi suatu objek. Dalam sebuah usaha pengenalan, ada sesuatu yang pasti dikenali. Dalam sebuah pengambilan keputusan, ada sesuatu yang pasti diketahui atau ditolak. Dalam sebuah kegiatan mencintai, ada sesuatu yang pasti dicintai. Dalam sebuah keinginan, ada sesuatu yang pasti dikehendaki. Pendeknya, Brentano menempatkan secara ekslusif kegiatan psikis di dalam menangkap suatu fenomena.

            Kecenderungan psikologis tersebut dikritik oleh Edmund Husserl. Menurutnya, Brentano tidak merinci lebih lanjut dan tidak membedakan dengan jelas antara sesuatu yang berada ‘di dalam kesadaran’ dengan sesuatu yang tetap ada atau ‘immanen di dalam kesadaran’ dalam proses intensionalitasnya. Menurut Husserl, kedua hal tersebut oleh Brentano cenderung ditempatkan pada suatu dan daran psikologis, yakni kegiatan melakukan persepsi dengan menggunakan panca indera.

            Di dalam buku Logical Investigations yang ditulisnya, Husserl menegaskan bahwa intensionalitas harus dimaknai hanya dalam pengertian matematis dan logis semata, bukan dalam pengertian psikologis. Tindakan intensionaliitas, dalam pengetian logis, semata-mata adalah kegiatan berpikir (merely think; mere intention), bukan melakukan persepsi atau imajinasi secara intuitif-psikologis (acts of intuitive fulfillment). Justru menurut Husserl, persepsi psikologis yang telah menjadi laten berada dalam subjek lain, seperti halnya saintisme, yang harus dibersihkan supaya objek yang dipikirkan itu menjadi  murni adanya.

            Tulisan Husserl, Logische Untersuchungen (Logical Investigations) terbit pertama pada tahun 1900, dan tulisan yang kedua terbit pada tahun 1901. Tujuh tahun kemudian, fenomenologi menjadi sebuah aliran yang berpusat di Gottingen, Munich. Husserl meninggalkan Gottingen pada tahun 1916 untuk menjabat kepala sekolah filsafat di Freiburg. Heidegger, murid Husserl, kemudian menggantikannya menjadi Privat-dozent di Gottingen. Pada tahun1923, Heidegger dipanggil ke Marburg dan di sana, melalui Freiburg, fenomenologi berkembang dengan tema pembahasan yang lebih kompleks. Persoalan-persoalan yang dikemukakan Husserl sendiri menjadi kaya dan lebih sistematik, terutama ketika Heidegger memasukkan pertanyaan baru, yaitu tentang analisis dunia dan yang ada (being) dan hubungannya dengan waktu, dengan menerbitkan Sein dan Zeit (Being and Time) di Jahrbuch tahun 1927.

            Fenomenologi berkembang lebih luas berkat usaha publikasi sosiologis dari Max Scheler. Gagasan Husserl terlampau akademis sehingga sulit untuk dibaca dan dimengerti oleh banyak orang, ditambah dengan gaya penulisan yang juga sangat akademis. Agar fenomenologi lebih banyak dikenal hingga barmanfaat lebih bagi banyak orang, maka Scheler menyandingkannya dengan esensi kehidupan dan pengalaman sehari-hari, seperti pengalaman sosial, etika, dan agama. Scheler tidak mau bahwa fenomenologi menjadi sesuatu yang disebut oleh Bacon sebagai berhala pengetahuan (the idol of the knowledge). Dalam hubungannya dengan sosiologi generasi berikutnya yang berjasa mengembangkan fenomenologi, terutama dalam perspektif sosiologi, adalah Alfred Schultz, Max Scheler, dan Peter L Berger.

            Fenomenologi didirikan oleh Edmund Husserl dalam rangka mengkritisi filsafat positivisme. Fenomenologi memandang bahwa untuk mencapai pengetahuan yang benar, metode positivisme dianggap memiliki kekurangan, di antaranya menganggap remeh keterhubungan subjektif antara manusia yang memiliki kesadaran akan sesuatu dengan objek atau dunia disadari manusia. Dalam metode ilmiah positivistik, hubungan subjek-objek tersebut harus dieliminasi untuk mencapai objektivitas bahkan sedapat mungkin dihilangkan. Hal ini tidak mungkin karena kita tahu benda itu objektif jika kita tidak pernah berhubungan sama sekali dengan benda itu sendiri. Dalam rangka mengembalikan makna keterhubungan anatara subjek dengan objek ini, Husserl berusaha memberikan argumentasi bahwa pengetahuan yang memperhatikan hubungan subjektivitas ini masih “ilmiah” karena sifatnya intuitif, murni, bersih, dan alamiah.

            Ada beberapa cara untuk mencapai pengetahuan yang solid yang diinginkan fenomenologi. Pertama cobalah bersikap alamiah. Sikap alamiah bukan sikap ilmiah yang cenderung memandang gejala manusia dengan objek itu sama persis dengan gejala alam semesta fisik. Sikap alamiah itu adalah sikap manusia yang mengedepankan kesadarannya secara intuitif dan langsung ketika berhubungan dengan objek atau benda-benda. Kedua lakukanlah pembersihan pada subjek dan objek sehingga prasangka generalitas empiris itu tidak ada sedangkan yang ada hanyalah generalitas murni yang ditangkap bukan oleh pancaindra semata tetapi oleh kesadaran murni manusia. Kesadaran murni itu sifatnya eidetic karena yang ingin dicari adalah eidos atau intisari yang tertangkap oleh kesadaran individu manusia.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

SOSI4202/3SKS/MODUL4

FILSAFAT SOSIAL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons