Kebudayaan
1.
Kebudayaan Bersifat Adaptif dan Maladiptif
Kita meliihat bahwa kebudayaan suatu masyarakat tidak
bersifat stagnan, melainkan mengalami perkembangan. Perkembangan dari
kebudayaan ini menunjukkan bahwa kebudayaan tersebut berusaha menyesuaikan diri
dengan perubahan lingkungannya. Hal ini dikarenakan cara-cara bagaimana suatu
masyarakat berpikir dan bertindak pada dasarnya merupakan respons terhadap
kebutuhan hidupnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu bersifat
adaptif.
Adaptasi kebudayaan terhadap lingkungannya menunjukkan
perbedaan antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lainnya.
Sebagaimana dicontohkan oleh Ember (1981: 28-29), pada masyarakat yang tinggal
di daerah tropis mempunyai pantangan agar ibu yang baru melahirkan tidak
melakukan hubungan seksual sampai anak berumur dua tahun dan dapat disapih.
Pantangan ini berimplikasi pada kebutuhan akan penjarangan kelahiran, dan
terselamatkannya si bayi dari penyakit kwashiorkor, yaitu suatu penyakt berat
yang disebabkan oleh kekurangan protein yang umum berjangkit di daerah tropis.
Akan tetapi pantangan seperti ini tidak berlaku pada suatu kelomok masyarakat
yang tinggal di Amerika Selatan, yang juga merupakan daerah yang kadar
proteinnya rendah. Bentuk adaptasi terhadap penjarangan kelahiran dan
penyapihan bayi yang terlalu cepat dengan cara pengguguran kandungan yang
dianggap sebagai perbuatan yang biasa.
Akan tetapi tidak semua bentuk-bentuk penyesuaian
berkontribusi positif terhadap bertahannya suatu masyarakat. Walaupun pada
umumnya suatu masyarakat berusaha mengubah cara berpikir dan berperilakunya
adalah untuk kebaikan mereka, tetapi ternyata apa yang mereka pikirkan tersebut
tidak tercapai. Inilah yang disebut dengan maladaptif, yaitu suatu masyarakat
yang berusaha mengembangkan unsur kebudayaan tertentu ternyata malah melakukan
penyesuaian yang salah, artinya kebiasaan-kebiasaan baru yang dikembangkan
malah mengurangi ketahanan masyarakat tersebut. Walaupun tidak djelaskan secara
rinci, Ember menyatakan bahwa ada bukti yang mengungkapkan beberapa masyarakat
di jaman lampau telah punah karena memakai kebiasaan-kebiasaan yang merugikan.
Sementara itu pada abad kedua puluh adaptasi kebudayaan sering menyebabkan
hilangnya semua kemandirian yang dimiliki oleh suatu bangsa. Hal ini
dikarenakan kemampuan swadaya mereka hilang, di mana mereka semakin lama
semakin tergantung pada barang-barang komoditi yang tidak mereka hasilkan
sendiri. Adaptasi mereka terhadap sistem perekonomian yang ada yang diharapkan
dapat menaikkan tingkat kehidupannya, malahan menyebabkan orang sama sekali
tergantung pada fluktuasi perekonomian dunia yang tidak dapat mereka kendalikan. Bagi kita,
pemahaman ini tentu saja sangat berguna dalam rangka memilih bentuk adaptasi
kebudayaan yang mana yang bersifat tidak merugikan.
2.
Kebudayaan Bersifat Relatif
Karakteristik
selanjutnya dari kebudayaan adalah bahwa kebudayaan itu bersifat relatif.
Sehubungan dengan relativisme kebudayaan ini, Walter Goldschmidt menyatakan
bahwa kebudayaan harus dipahami dalam kerangka atau konteks dari kebudayaan itu
sendiri.
Doktrin relativisme kebudayaan ini dikembangkan untuk
menyerang thesis dari etnosentrisme, yang mempercayai bahwa cara hidup
(kebudayaan) seseorang lebih superior dbanding dengan kebudayaan orang lain.
Akan tetapi paham etnosentrisme ini tidak
berlaku dalam antropologi. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa apabila
suatu kebudayaan itu “tidak berharga atau kurang berharga” maka tidak ada
gunanya kita melakukan kajian. Dengan demikian bagi antropolog semua kebudayaan
itu “mempunyai nilai” dalam kaitannya dengan konteksnya sendiri. Dengan
demikian berusaha memahami kebudayaan dalam konteksnya sendiri merupakan bagian
esensial dari kajian antropologi.
Ide tentang relatiivisme kebudayaan ini sebenarnya
merupakan sebuah dilema. Pada saru sisi relativisme kebudayaan merupakan hal
yang sangat bermanfaat dan sangat perlu. Peneliti tidak bisa memahami bagaimana
suatu kebudayaan itu “bekerja” apabila kebudayaan itu disekati dengan rasa jijik
atau prasangka negatif. Dalam melakukan kajiannya maka peneliti harus bisa
bersikap netral. Peneliti harus bisa menghargai kebudayaan yang dimasukinya
walaupun mungkin kebudayaan tersebut sangat berbeda, bahkan mungkin sekali
bertolak belakang, dengan kebudayaan peneliti. Bagaimana sikap peneliti
terhadap kebudayaan yang ditelitinya.
Sementara itu Melville J. Herskovits berpendapat bahwa
relativisme kebudayaan adalah sebuah filosofi, yaitu “the validity of every set
of norms for the people whose lives are guided by them, and the values these
represent (Herskovits, 1951: 76, dalam Oliver, 1981: 141), artinya, relativitas
kebudayaan menyangkut validitas dari serangkaian norma yang digunakan sebagai
pedoman hidup, di mana nilai-nilai dimunculkan. Kesimpulan logis yang
menganggap bahwa relativisme kebudayaan adalah filosofi ini membuat para antropolog merasa tidak “nyaman”.
Menikuti filosofi berarti menganggap bahwa suatu cara (dalam melakukan sesuatu)
adalah selalu merupakan sesuatu yang baik sebagaimana cara-cara yang lainnya.
Dengan demikian maka di sini tidak ada lagi peluang bagi pilihan yang mengacu
pada etik. Apabila relativisme dianggap sebagai filosofi, yang berarti baik
dalam konteks kebudayaannya, pertanyaannya adalah bagaimana dengan cara Nazi memasukkan
para tahanannya ke dalam camp konsentrasi, yang mereka anggap sebagai
kebudayaan atau filosofi mereka? Tidak adakah peluang bagi pilihan yang mengacu
pada etik dalam memandang hal ini? Memang tidak mudah keluar dari dilema ini.
3.
Kebudayaan Bersifat Universal
Pada berbagai
kebudayaan yang berbeda, dapat kita jumpai adanya persamaan-persamaan.
Persamaan-persamaan ini muncul di dalam pranata, di mana pranata ini membentuk
respons terhadap kebutuhan biologis dan emosional manusia. Sebagai contoh, semua
masyarakat mempunyai aturan terhadap hubungan seksual untuk melindungi
reproduksi dan untuk menyediakan kesejahteraan keturunannya. Konsekuensinya,
pranata keluarga muncul di semua kebudayaan meskipun bentuk dari pranata
tersebut berbeda-beda di antara berbagai masyarakat. Mengenai aturan hubungan
seksual atau perkawinan dan pranata keluarga yang ada di semua masyarakat,
walaupun bentuknya berbeda-beda.
Terdapat dua pendekatan dalam mempelajari kebudayaan
yaitu pendekatan ideasional dan pendekatan behaviorisme. Kedua pendekatan ini
memandang kebudayaan melalui kacamata yang berbeda. Pendekatan ideasional
melihat kebudayaan sebagai sistem kognitif, sementara pendekatan behavorisme
melihat kebudayaan sebagai sistem adaptif. Kedua pendekatan ini melahirkan
sejumlah pengertian kebudayaan, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli.
Melalui kedua pendekatan ini maka wujud kebudayaan dapat dilihat sebagai sistem
ide/gagasan, sistem perilaku, dan artefak.
Sementara itu dalam melihat dan memahami kebudayaan kita harus mengacu pada sejumlah karakteristik kebudayaan. Karakteristik kebudayaan tersebut antara lain adalah bahwa kebudayaan itu dimiliki bersama, diperoleh melalui belajar, bersifat simbolis, bersifat adaptif dan maladaptif relatif dan universal
SUMBER BUKU MATERI POKOK
ISIP4210/3SKS/MODUL5
PENGANTAR ANTROPOLOGI
Komentar
Posting Komentar