Kebudayaan


A. TEORI PERUBAHAN KEBUDAYAAN

            Perubahan kebudayaan pada suatu masyarakat bagaimanapun tidak dapat dielakkan. Tidak ada masyarakat yang benar-benar statis. Masyarakat selalu dinamis, berubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Hanya saja, perubahan kebudayaan pada satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat, serta ada yang maju tetapi ada pula yang mundur. Perbedaan tingkat perubahan kebudayaan pada suatu masyarkat sangat tergantung pada potensi yang dimiliki (faktor internal) dan pengaruh dari masyarakat lainnya (faktor eksternal).

1. Teori Evolusi

            Perubahan kebudayaan ini dijelaskan antara lain melalui teori evolusi. Teori evolusi berpendapat bahwa perubahan itu terjad secara bertahap, sedikit demi sedikit dalam  jangka waktu yang cukup panjang. Sedangkan sebaliknya, perubahan yang terjadi dalam skala yang besar dan dalam jangka waktu yang sangat singkat disebut revolusi. Tokoh-tokoh dari teori evousi ini adalah Charles Darwin (1809-1882) dengan hasil karyanya yang sangat terkenal “The Origin of Spesies” (1959) dan “A. Wallace” (1823-1913). Di antara keduanya pada dasarnya tidak ada perbedaan pendirian. Keduanya sama-sama berpendirian bahwa di antara individu-individu dalam satu jenis makhluk selalu ada perbedaan-perbedaan. Pendapat kedua ahli tersebut kemudian banyak mempengaruhi berbagai pemikiran para ahli di bidang lain, ridak terkecuali pemikiran para ahli filsafat dan sosial budaya.

2. Teori Difusi

            Suatu kebudayaan ternyata tidak selamanya tumbuh sendiri yang disebabkan adanya faktor internal, tetapi dapat pula tumbuh karena adanya faktor saling mempengaruhi antara satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Kenyataan ini disadari setelah para ahli melihat bahwa di beberapa kebudayaan yang berbeda bahkan terletak berjauhan secara geografis terdapat bentuk-bentuk atau unsur-unsur kebudayaan yang hampir sama. Adanya persamaann dalam bentuk atau unsur kebudayaan di muka bumi ini terjadi karena adanya persebaran unsur-unsur kebudayaan tersebut pada masa yang lampau.

B. MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

            Anda sudah mengingat kembali tentang teori-teori perubahan masyarakat dan kebudayaan bukan? Bahasan selanjutnya adalah mengenai mekanisme perubahan sosial budaya. Bahasan ini dimaksudkan agar Anda tidak hanya memahami tataran teoritis saja, melainkan juga tataran gejala/fenomena konkret. Perubahan yang ada pada suatu masyarakat sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, dapat terjadi oleh karena berbagai faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri dan dari luar masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, mekanisme perubahan dapat dilihat sebagai suatu proses yang bersifat internal saja (terjadi di dalam masyarakat itu sendiri), maupun proses perubahan yang melibatkan pihak atau unsur dari luar masyarakat itu sendiri. Mekanisme yang pertama biasanya dihubunkan dengan gejala discovery atau inovasi, sedangkan gejala kedua biasanya dihubungkan dengan gejala difusi atau persebaran unsur kebudayaan, akulturasi, dan culture loss.

1. Penemuan Baru (Inovation)

            Inovasi atau penemuan baru merupakan salah satu sumber penting yang mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan. Inovasi dibedakan ke dalam 2 macam yaitu inovasi primer dan inovasi sekunder. Inovasi primer adalah penemuan akan sesuatu hal yang baru baik peralatan, prinsip-prinsip, maupun kegiatan-kegiatan yang secara luas diterima oleh sekelompok masyarakat. Inovasi sekunder adalah suatu bentuk penemuan baru yang muncul sebagai hasil dari adanya sebuah atau serangkaian penerapan inovasi primer. Inovasi sendiri diartikan sebagai sebuah istilah untuk menunjuk bahwa suatu penemuan baru telah diterima dan diterapkan atau digunakan oleh sebagian besar warga suatu masyarakat. Istilah lainnya adalah discovery, yaitu suatu istilah yang digunakan untuk sebuah penemuan baru tetapi penemuan baru tersebut belum diterima atau diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebuah penemuan baru tidak selamanya hasil dari sesuatu yang direncanakan, bahkan diantaranya justru banyak unsur baru yang diperoleh secara kebetulan. Sebuah penemuan baru juga tidak bisa dipandang sebagai suatu kejadian yang mendadak atau tiba-tiba dari tidak ada menjadi ada. Penemuan baru biasanya merupakan suatu rangkaian panjang.

2. Difusi Kebudayaan

            Difusi adalah sebuah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya. Dalam hal ini masyarakat pertama adalah masyarakat yang bertindak sebagai penemunya (inventor), sedangkan masyarakat berikutnya adalah masyarakat penerima atau pemakai dari penemuan baru tersebut. Dengan kemajuan teknologi saat ini, tidak ada lagi masyarakat yang dapat terbebas dari gejala difusi kebudayaan. Setiap masyarakat telah menggunakan barang-barang atau ilmu pengetahuan yang telah diciptakan atau digunakan oleh masyarakat lainnya.

3. Culture Loss

            Kehilangan kebudayaan (culture loss) adalah sebuah proses perubahan kebudayaan pada suatu masyarakat yang menyebabkan ciri-ciri kebudayaan aslinya hilang. Penerimaan masyarakat terhadap inovasi baru secara terus-menerus pada satu saat bisa menggantikan unsur-unsur kebudayaan lama yang dimiliki oleh para generasi pendahulunya. Tidak dipungkiri bahwa pada proses penemuan unsur baru (inovation), kehilangan unsur kebudayaan (culture loss), dan difusi unsur-unsur kebudayaan (diffusion), terdapat aspek kekuasaan yang memaksakan hal-hal tersebut terjadi. Namun pada proses-proses tersebut, masyarakat masih diberikan kebebasan untuk memilih unsur-unsur baru tersebut, mana yang paling cocok dan mana yang kurang cocok dengan kebudayaan yang mereka miliki.

4. Akulturasi

            Akulturasi adalah sebuah proses diterimanya unsur-unsur kebudayaan dari suatu masyarakat oleh masyarakat lain dengan tidak mengubah kepribadian kebudayaannya sendiri. Akulturasi biasanya terjadi ketika dua masyarakat yang memliki kebudayaan yang berbeda hidup secara berdampingan atau dengan tingkat kontak yang relatif intensif sehingga terjadi perubahan pada beberapa unsur kebudayaan dari keduanya, tetapi sifat dan ciri-ciri masing-masing kebudayaannya tidak hilang. Akulturasi bisa terjadi melalui proses yang alamiah, di mana dua kebudayaan hidup secara berdampingan dan lama kelamaan dari salah satu kebudayaan menerima unsur kebudayaan lainnya menjadi bagian dari kebudayaannya. Proses akulturasi sudah terjadi sejak dahulu, sejak manusia bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka mencari mata pencaharian untuk mempertahankan hidup. Namun sejak abad ke 15, bangsa Eropa Barat mulai menyebar ke Asia, Afrika, Oseania, Amerika Uatra, dan Amerika Latin dan mencapai puncak kejayaannya pada abad 19 dan awal abad ke 20 dalam bentuk pemerintah jajahan yang mereka ciptakan. Selama masa ini banyak unsur-unsur kebudayaan Eropa yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat yang mereka singgahi. Para ahlii antropologi pada masa ini telah tertarik untuk meneliti XXXVIII), Man (XXXV), Africa (IX) dan Oceania (VI).

            Setelah perang dunia II perhatian para ahli antrpologi terhadap proses akultursi semakin besar dan metode-metode penelitian yang digunakan semakin tajam. Catatan yang cukup lengkap mengenai masalah akulturasi hingga tahun 1952 dibuat oleh F. Keesing dalam sebuah buku berjudul ;Culture Change: An Analysis and Bibliography of Anthropological Sources to 1952”.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

ISIP4210/3SKS/MODUL7

PENGANTAR ANTROPOLOGI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons