Kuhn


POKOK-POKOK PIKIRAN KUHN
            
Karya Kuhn pertama yang dianggap sebagai karya monumental mengenai perkembangan sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan adalah dengan mengemukakan konsep paradigma sebagai konsep sentral. Karya ini ditulis Kuhn ketika ia hampir menyelesaikan disertasinya di bidang fisika teotitis. Keterlibatannya dengan kuliah eksperimental mengenai ilmu fisika untuk ilmuan yang spesialisasinya bukan ilmu-ilmu alam, pada akhirnya membawanya pada satu kekaguman dan kesimpulan bahwa teori dan praktek ilmiah itu telah usang, dan secara radikal merobohkan sebagian konsepsi dasar sifat ilmu pengetahuan dan alasan keberhasilannya. Kuhn sempat menelaah bidang-bidang yang jauh spesialisasinya, seperti psikologi khususnya eksperimen Piaget, psikologi Gestalt, serta pengaruh bahasa terhadap pernyataan ilmiah khususnya berkaitan dengan teori B. L. Whorf yang menolak bahasa sebagai cermin realitas.
            
Penelusuran bidang-bidang ilmiah itu secara tidak sengaja menarik perhatian Kuhn untuk mendalami sejarah ilmu pengetahuan. Dari hasil penelusuran itu, ia menekankan pentingnya pemahaman tentang sejarah ilmu pengetahuan sebagai titik tolak bagi semua riset dan pemahaman ilmiah. Bukunya the Structure of Scientific Revolution (1962/1970) mengkritik dengan tajam pandangan positivisme dan falsifikasi Popper. Positivisme melihat perkembangan ilmu pengetahuan bersifat kumulatif, artinya ilmu pengetahuan berkembang terus sebagai akumulasi yang terjadi akibat riset para ilmuan sepanjang sejarah perkembangannya. Paradigma positivisme menetapkan kriteria ilmiah dan tidak ilmiahnya satu teori atau proposisi melalui prinsip verifikasi. Sedangkan Popper menolak prinsip verifikasi itu dan menggantinya dengan falsifikasi. Falsifikasi ini maksudnya untuk membuktikan salahnya suatu teori, proposisi, atau hipotesa.
            
Popper mengemukakan bahwa perkembangan ilmiah diawali oleh pengajuan hipotesa yang kemudian disusul oleh upaya untuk membuktikan kesalahan hipotesa itu. Jika kita tidak menemukan kesalahan hipotesa lagi, maka hipotesa telah berubah menjadi tesa (teori) yang diterima sebagai satu kebenaran yang tentatif. Artinya kebenaran yang diterima sampai ditemukan kesalahan teori ituoleh ilmuan lain/berikutnya.
            
Berdasarkan penelitian tentang sejarah ilmu pengetahuan, Kuhn menolak pandangan Popper yang dianggapnya tidak sesuai dengan fakta. Perkembangan, dan khususnya perubahan ilmu pengetahuan, menurut Kuhn tidak pernah terjadi  berdasarkan upaya empiris melalui proses falsifikasi suatu teori atau sistem, melainkan terjadi melalui suatu perubahan yang sangat mendasar atau melalui suatu revolusi ilmiah. Jadi Kuhn menolak pandangan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara kumulatif dan evolusioner akan tetapi melalui revolusi ilmiah. Jadi Kuhn menolak pandangan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara kumulatif dan evolusioner akan tetapi melalui revolusi ilmiah yang terjadi dengan perubahan paradigma. Lagi pula menurut Kuhn Ilmu pengetahuan tidak terlepas dari konteks sosial-historis serta bukan kebenaran objektif dan satu-satunya.
            
Paradigma metafisik merupakan konsensus terluas dalam bidang ilmu yang membantu membatasi lingkup (scope) dari satu bidang ilmu, sehingga membantu mengarahkan komunitas ilmuan dalam melakukan penelitiannya. Paradigma mengandung keyakinan, nilai-nilai, serta teknik-teknik metode yang digunakan oleh komunitas ilmuan tertentu. Paradigma metafisik juga mengandung unsur yang disebutnya exemplar yang pengertiannya lebih luas dari matriks ilmiah. Watson dan Cruk (1968) memberikan pengertian exemplar sebagai hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum.   
            
Paradigma Sosiologi ilmu pengertiannya dikemukakan oleh Masterman. Paradigma sosiologi ini mirip dengaan exemplar pada Kuhn. Eksemplar berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan, keputusan-keputusan, dan aturan yang diterima serta penelitian yang diterima secara umum. Hasil penelitian yang diterima secara umum inilah yang dimaksudkan dengan ekemplar. Misalnya, penelitian Durkheim, Max Weber, Alfred Schulz dalam sosiologi; Freud, Skinner, Maslow dalam psikologi, di mana hasil penelitian ini kemudian dijadikan contoh penelitian oleh pendukung paradigma tersebut. Durkeim menjadi model bagi paradigma fakta sosial, Max Weber dengan Social Action-nya menduduki eksemplar bagi sosiologi interpretatif, atas hal ini mereka disebut sebagai ‘jembatan paradigma’. Hal yang sama tentu dapat diberikan pada Freud (paradigma Psikoanalisa, Skinner (paradigma Behaviorisme), dan Maslow (paradigma Humanistik) yang merupakan ‘jembatan paradigma’ ilmiah dalam psikologi.
            
Paradigma Konstruk adalah konsep yang paling sempit dari ketiga paradigma yang dikemukakan Masterman. Untuk menjelaskan paradigma konstruk ini, ia memberikan contoh mengenai pembangunan reaktor nuklir yang merupakan paradigma konstruk bagi fisika nuklir. Mendirikan laboratorium, menurut Wilhelm Wundt yang tokoh psikologi Behaviorisme, menjadi paradigma konstrukbagi psikologi eksperimental.
            
Dalam fisika dan astronomi selama ribuan tahun para ahli di Eropa menjadikan filsafat alam Aristoteles dan Ptolemeus sebagai model atau pola untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Bumi diyakini merupakan pusat alam semesta (teori geosentris) dan matahari serta planet-planet mengorbit mengelilinginya. Model atau skema Aristoteles ini mulai diragukan/ditinggalkan setelah munculnya suatu sistem astronomi baru, yaitu paradigma baru dari Copernicus yang menyatakan bahwa bumI bukan pusat alam semseta, bumi dan planet-planet justru mengorbit mengitari matahari (teori heliosentris). Galileo Galelei, dan Newton mendukung teori Copernicus. Para ahli fisika ini telah memberikan model, pola atau skema baru dalam melihat dan menjelaskan gejala-gejala alam. Jadi terjadi pergeseran atau pergantian paradigma (paradigm shift) dari paradigma Aristotelean ke paradigma Galilean atau Newtonian.
            
Jika paradigma Aristotelean menganggap alam sebagai pusat alam semesta, maka akan memiliki tujuan tertentu, tujuan itu misalnya untuk kembali ke asalnya (buah apel jatuh karena rindu/ingin kembali ke asalnya yaitu tanah), maka paradigma Newtonian lah yang mengubah pandangan dunia (asumsi metafisik) Aristotelean itu. Asumsi-asumsi metafisik, anatara lain pertama bahwa alam tidak memiliki tujuan, apel jatuh karena mengikuti hukum alam atau hukum gravitasi. Di dalam alam ada hukum sebab-akibat (kausalitas). Bagi newton alam bergerak seperti mesin (mekanis dan matematis) di mana alam itu ibarat sebuah buku besar yang dapat dipahami jika kita mengetahui bahasanya. Bahasanya adalah bahasa matematika, karena itu muncul tuntutan penggunaan penelitian eksperimental-kuantitatif. Pandangan Newton ini mungkin pengaruh akibat ahli matematika Yunani Pitagoras yang menyatakan bahwa alam diciptakan Tuhan dengan perhitungan matematis.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

SOSI4202/3SKS/MODUL3

FILSAFAT SOSIAL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons