Karl Mannheim


            Ketenaran Karl Mannheim terlihat dari karyanya Ideology and Utopia. Buku itu merupakan upayanya dalam menanamkan dasar-dasar yang kuat bagi sosiologi pengetahuan sebagai suatu kajian tersendiri di dalam teori sosiologi. Karya ini juga dianggap sangat mempengaruhi pemikiran intelektual di Inggris sejak tahun 1933 sampai akhir hayat Mannheim tahun 1947. Karya itu pula dianggap sebagai karya yang memberikan dasar-dasar berdirinya sosiologi di inggris serta dihormati sebagai hasil pikir intelektual akademik dalam kaitannya dengan teori politik dan konsep-konsep filsafat sosial.

            Mannheim dapat sebagai orang yang pertama kali melakukan kajian ideologi politik melalui anlisis sosiologis. Upayanya itu dianggap sebagai titik awal bagi pemikir lainnya dalam mempelajari berbagai sistem ideologi yang ada. Konsep sosiologi Mannheim selalu mengacu kepada pemikiran pengetahuan mengenai cara suatu masyarakat itu berperan. Konsep tersebut agak mengambang, karena konsep itu mengawinkan antara ‘liberalisme-sosialisme’ dengan ‘ilmu politik’ yang pada dasarnya benar-benar tidak dapat diwujudkan. Namun demikian, upayanya untuk menemukan suatu rumusan bagi pemikiran sosiologis yang berada di antara sosiologi dan filsafat justru menciptakan suatu paradigma baru yaitu sosilogi pengetahuan. Konsep ini oleh Mannheim diharapkan dapat membentuk elemen yang menjembatani antara ideologi-ideologi liberlal dan konservatif.

            Sepanjang hidupnya Mannheim tak henti-hentinya berupaya untuk mencari dan menentukan metode yang tepat bagi ilmu (pengetahuan) politik. Metode ini akan dijadikan acuan dalam kajian-kajian politik baik yang sifatnya irasional maupun yang bersifat rasional. Ironisnya, hal itu bukanlah membuat politik menjadi semakin rasional dan ilmiah, seperti yang menjadi obsesinya, tetapi malah membuat politik semakin terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan di antara berbagai ideologi dan utopia.

            Selama perjalanan karirnya, Mannheim banyak menulis buku dan dua kali menerbitkan bukunya yang berisi berbagai hal yang (ternyata) masih harus didiskusikan dengan berbagai disiplin ilmu lain. saat itu masih belum memungkinkan bagi orang-orang untuk berpikir secara kritis mengenai sosiologi pengetahuan, tanpa mengkaji bukunya Ideology and Utopia. Debat itu berlanjut pada bukunya Man and Society in an Age of Reconstruction. Kedua buku itu sangat populer di berbagai negara pada kurun waktu yang berbeda. Dalam bahasa aslinya, Jerman, Ideology and Utopia dikaji dengan sangat menarik oleh Hannah Arendt, Mac Hockheimer, Herbert Marcuse, Paul Tillich, dan masih banyak tokoh terkenal lain dari generasi yang lebih muda. Dalam versi bahasa Inggris, buku itu menjadi sangat populer di Amerika Serikat setelah diperkenalkan oleh Robert K. Merton dan C. Wright Mills.

            Terkait dengan sosiologi pengetahuan, Mannheim berpendapat bahwa para ahli sosiologi pengetahuan sebenarnya tidak memiliki otoritas atau kewenangan secara langsung atas informasi mengenai ‘keinginan formatif’ (formative will). Formative will ini, menurutnya, merupakan prinsip-prinsip integrasi dan perkembangan dalam ideologi secara menyeluruh. Penjelasannya yang berkaitan dengan berbagai kelompok (kepentingan) itu dimulai dengen penjelasan mengenai berbagai ideologi dan masyarakat utopis yang merupakan titik awal dari pengetahuan mengenai style of thinking, prinsip-prinsip realitas,  teori sosial, dan juga berkaitan dengan pemikiran-pemikiran mengenai lingkungan sosial. Di sini, ahli sosiologi pengetahuan berupaya mengungkapkan pemikiran, konsep, dan interpretasi yang telah dikemukakan Mannheim. Misalnya, melakukan interpretasi atas definisi atau batasan perkembangan generasi pada suatu waktu tertentu yang merupakan titik pijak di dalam menafsirkan suatu ideologi dilihat dari kaca mata sosial.

            Mannheim memang disanjung-sanjuang oleh para sosiolog. Meskipun sesungguhnya ia ‘agak sedikit’ diabaikan terutama karena ada keragu-raguan di dalam gagasannya yang begitu kompleks mengenai filsafat. Tulisan Mannheim mengenai Ideologie und Utopie yang diterbitkan tahun 1932 semestinya diterbitkan bersama-sama dengan tulisan-tulisan lain menenai konservatisme. Tulisannya mengenai Competition as a Cultural Phenomenon yang merupakan awal dari perdebatannya mengenai sosiologi pengetahuan diterbitkan tahun 1931. Semua itu memperlihatkan pluralitas intelektual Mannheim sekaligus memperlihatkan penekanan konsepnya pada berbagai pola dan strategi menyangkut pemikiran, konsep, dan gagasan Mannheim. Di atas semua itu, keingintahuan dan penghargaan yang diberikan oleh kalangan intelektual itulah yang memicunya untuk selalu bekerja keras tanpa kenal lelah. Dan memang, sosiologi kini berubah, salah satunya karena Mannheim.

            Ketika Mannheim diterima sebagai dosen di Universitas Heidelberg, itulah awal berkembangnya sosiologi modern di Jerman. Berkaitan dengan ini, Mannheim menyusun tulisan berisi ajaran-ajaran Ernst Troelsch, Max Scheller, dan Max Weber yang berjudul Analysis on the State Contemporary Thought sebuah seri yang direncanakan untuk diterbitkan tetapi justru tidak pernah terbit. Dalam tulisannya itu, Mannheim menggunakan berbagai referensi yang merupakan rangkuman tulisannya Max Scheller, tetapi bukan untuk karyanya yang berjudul Ideology and Utopia. Sementara itu, tulisannya mengenai Troeltsch dan Scheller diterbitkan secara terpisah dan ini berkaitan dengan masa depan filsafat sejarah dan sosiologi pengetahuan yang mengacu kepada suatu konklusi yang sangat sistematis. Mannheim sendiri tidak pernah menggunakan pendekatan sistematis dalam mengkaji berbagai tulisan tokoh-tokoh lain yang dituangkan sebagai dalam yang sifatnya korektif.

            Di dalam Ideologie und Utopie Manheimm mengemukakan rumitnya gagasan-gagasan dan pemikiran politik dengan berbagai interpretasinya dilihat dari kaca mata sosiologi. Sedangkan di dalam Man and Society in an Age of Reconstruction, ia mengemukakan suatu rancangan untuk melakukan reorganisasi tatanan sosial demi mengatasi krisis yang melanda kehidupan masyarakat. Baginya, pengawasan dan pengendalian ‘totalitarian’ yang terkontrol bukanlah merupakan antitesis atau pengingkaran atas kebebasan dalam kaitannya dengan modernisme; dan melalui perencanaan itulah masyarakat memiliki kemungkinan untuk dapat menentukan pilihannya secara bebas tanpa ada seorang pun yang akan ‘mengatur’  dan memaksanya. Dengan demikian, social control yang merupakan alat ‘dehumanisasi’, bagi Mannheim justru membuat hidup ini semakin alami (natural) dan bukan merupakan proses eliminasi atau kualitas sifat-sifat manusia. Sebagai sebuah teori politik, konsep Manheimm sebenarnya memiliki kelemahan karena Mannheim gagal mengungkapkan gagasan dan pikirannya secara langsung berkaitan dengan kekuatan dan kekerasan sebagai sebuah aspek dari suatu pengawasan dan pengendalian sosial. Teori politik Mannheim tidak dapat menunjukkan keterkaitan dengan sejarah politik yang bergerak menuju masa-masa yang mempengaruhi (konsep) negara modern menuju liberalisme. Selain itu, teori politiknya juga tidak dapat menunjukkan konsep pemerintahan yang tidak ada  sangkut-pautnya dengan ide-ide atau fakta-fakta yang berguna mengenai bentuk-bentuk maupun proses pemerintahan sehingga semua proses dan konsep itu menjadi mandeg. Mannheim memang memberikan penegasan mengenai otoritas, legitimasi, hukum, kewarganegaraan, isu mengenai undang-undang, masalah yang menyangkut sosiologi politik, elit politik, dan para penyelenggara negara. Selain itu, ia juga membicarakan mengenai pengawasan masyarakat, perintah, dan upaya melakukan tekanan serta kekerasan terhadap masyarakat oleh pihak penguasa, serta masalah-masalah integrasi dan koordinasi. Dan hal-hal itulah yang telah ‘mengkuhkan’ Manheimm sebagai seorang ahli teori sosiologi politik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons