Pembangunan Di Indonesia
Strategi
Pembangunan Ekonomi Indonesia
Pada dasarnya, strategi pembangunan bertujuan untuk
mengubah perekonomian tradisional (seperti pertanian) menjadi perekonomian
modern (industri). Chenery dan Syrquin menganggap bahwa pembangunan ekonomi
dengan industrialisasi merupakan satu dimensi yang mampu membawa masyarakat
negara sedang berkembang yang hidup dalam kemiskinan menuju kemakmuran.
Sementara pembentukan polarisasi unit-unit kegiatan ekonomi akan menimbulkan
efek positif yang disebut “spread effect” dan efek negatif yang dikenal dengan
istilah “backwash effect”.
Strategi pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi ditujukan
agar siistem ekonomi mampu tumbuh pada kapasitas maksimum tanpa gejolak. Tetapi
akibat penerapan strategi tersebut banyak menimbulkan kepincangan sosial yang
semakin tajam antara desa-kota, kaya-miskin dan antar daerah. Dalam
perkembangannya kemudian ditemukan strategi yang mengutamakan pada pertumbuhan
dan pemerataan.
Adanya masalah-masalah dalam pembangunan perekonomian di
Indonesia sebagai akibat penerapan strategi pertumbuhan. Permasalahan tersebut
ditambah dengan krisis ekonomi yang melanda Asia yang mengakibatkan semakin
beratnya permasalahan yanhg harus dihadapi Indonesia. Upaya perbaikan dilakukan
melalui reformasi ekonomi yang disertai perbaikan kerangka dasar politik dan
hukum yang menjamin tegaknya demokrasi.
Berbagai
Macam Strategi Pembangunan Ekonomi
Sasaran dari berbagai
strategi pembangunan ekonomi yang pernah dikemukakan para ahli pada umumnya
bertujuan untuk mengubah corak perekonomian yang tradisional menjadi
perekonomian modern. Dengan kata lain, terjadi perubahan struktur ekonomi dalam
masyarakat yang sedang membangun. Perubahan struktur ekonomi atau perubahan
komposisi ekonomi tersebut antara lain meliputi perubahan besarnya sumbangan
sektor tradisional seperti pertanian dalam produksi nasional yang proporsinya
diharapkan semakin menurun. Sementara sumbangan sektor industri dalam
pembentukan produksi nasional proporsinya diharapkan semakin meningkat. Dalam
penyerapan tenaga kerja total, perubahan struktur ekonomi yang lebih modern
ditandai dengan menurunnya persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor
pertanian, sementara tenaga kerja yang bekerja di sektor industri atau sektor
modern persentasenya semakin besar.
Strategi pembangunan ekonomi dengan industrialisasi dalam
perekonomian berkembang, menurut Chenery (dalam Sadono Sukirno, 1985), telah
berhasil memberikan sumbangan 38% pada perekonomian nasional dan pada tingkat
pendapatan perkapita sebesar US $ 1000. Sebelumnya pada tingkat pendapatan
perkapita US $ 100, sektor industri menyumbang 17 % dari GNP. Peranann sektor
pertanian dalam menyumbang produksi nasional pada tingkat pendapatan perkapita
US $ 100 sebesar 45%. Setelah pendapatan perkapita menjadi US $ 600 atau
menjadi 6 kali lipat, ternyata pendapatan perkapita masih tertinggal bila
dibandingkan sektor industri yang naik menajadi 10 kali lipat. Hal ini
berakibat pertumbuhan pendapatan perkapita tidak sebanding dengan pertumbuhan
sektor industri. Perbedaan laju pertumbuhan sektor industri dengan pertumbuhan
pendapatan per kapita tersebut disebabkan oleh 3 faktor, yaitu:
1. sebagai akibat substitusi
impor;
2. perkembangan permintaan
barang-barang jadi;
3. perkembangan permintaan barang-barang
setelah jadi.
Pengembangan industri substitusi impor di dalam strategi
industrialisasi telah menyumbang 50% dari perbedaan pertumbuhan produksi
nasional dari sektor industri dengan tingkat pendapatan perkapita.
Akan tetapi, menurut Chenery dan Syrquin yang menganggap
bahwa pembangunan ekonomi dengan industrialisasi merupakan satu dimensi yang
mampu membawa masyarakat negara sedang berkembang yang hidup dalam kemiskinan
menuju kemakmuran. Strategi pembangunan perlu menitikberatkan pada industri
tertentu yang bertindak sebagai “industri pemimpin” (leading industry). Menurut
Bodeville (dalam John Glasson, 1975), yang dimaksud dengan industri pemmpin ini
adalah industri yang memiliki sifat berikut ini.
1. Industri yang relatif
baru dan dinamis dengan teknologi tinggi yang mampu mendorong iklim
pertumbuhan.
2. Produk dari industri ini
memiliki elastisitas pendapatan yang tinggi.
3. Industri ini memiliki
kaitan ke depan maupun ke belakang yang kuat dengan industri yang lain.
Industri pemimpin ini juga didukung oleh perusahaan yang
mendorong laju perkembangan ekonomi dengan sifat skala perusahaannya yang
besar, memiliki kemampuan untuk inovasi, mempunyai laju pertumbuhan yang aspek
wilayah, pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut melalui industrialisasi tidk
akan terjadi pada seluruh bagian wilayah. Oleh karenanya dari sisi geografis
wilayah, Perroux memperkenalkan “kutub-kutub pertumbuhan”, yang salah satu
syaratnya harus ada jenis industri yang jadi industri pemimpin.
Menurut strategi kutub pertumbuhan, adanya industi
pemimpin yang memiliki kaitan ke depan maupun ke belakang dengan industri lain
menimbulkan proses pembentukan polarisasi unit-unit kegiatan ekonomi. Hal ini
yang disebut dengan aglomerasi. Aglomerasi tersebut akan menimbulkan “spread
effect” (efek penyebaran kemajauan ekonomi. Menurut Gunnar Myrdall, kutub
pertumbuhan ekonomi tidk hanya menyebabkan munculnya “spread effect” tetapi
juga mengakibatkan efek negatif tersebut ditandai dengan timbulnya “backwash
effect” (efek pencucian) yang mengakibatkan berbagai potensi di wilayah
belakang tersedot ke wilayah pusat pertumbuhan, sehingga wilayah belakang yang
kondisinya miskin atau kurang maju, menjadi lebih miskin.
Strategi pembangunan ekonomi yang menekankan pentingnya
pembentukan kapital didasarkan pada teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dan
teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dan teori pembentukan ekonomi Harrod
Domar. Menurut Rostow perkembangann suatu masyarakat terdiri dari 5 (lima)
tahapan, yaitu:
1. tahap masyarakat
tradisional;
2. tahap prasyarat lepas
landas;
3. tahap lepas landas;
4. tahap kedewasaan;
5. tahap masa konsumsi
tinggi.
Analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi pencapaian tahap pertumbuhan ekonomi tersebut menurut
Rostow cukup luas. Namun dari sisi ekonomi, pencapaian setiap tahap pertumbuhan
harus diprasyarati oleh jumlah investasi dalam perkonomian yang disisihkan dari
pendapatan nasional. Dalam fase atau tahap prasyarat lepas landas, penanaman
modal produktif sebesar 5% dari produk nasional bersih (Net National Product).
Sementara untuk mencapai tahap lepas landas, perekonomian nasional harus mampu
menyisihkan penanaman modal sebesar 10% dari produk nasional bersih.
SUMBER BUKU MATERI POKOK
ISIP4310/3SKS/MODUL7
SISTEM EKONOMI INDONESIA
Komentar
Posting Komentar