Penanan Swasta Dalam Krisis Ekonomi Indonesia


Krisis Ekonomi dan Peningkatan Peran Swasta dalam Perekonomian Indonesia

            Memasuki pertengahan tahun 1997 terjadi krisis moneter yang menimpa negara-negara Asia seperti Thailand, Korea Selatan, Indonesia dan Malaysia. Krisis ini berupa jatuhnya nilai tukar mata uang negara-negara tersebut terhadap dolar Amerika. Dalam tempo beberapa bulan, negara-negara yang dianggap sebagai kekuatan baru di bidang industri (New Industrial Countries) seperti Korea Selatan, ekonominya menjadi porak-poranda akibat krisis tersebut. Bahkan ada yang lebih parah dari Korea Selatan, yakni Thailand dan Indonesia.

            Krisis moneter yang menimpa negara-negara Asia tersebut diawali oleh kondisi perekonomian negara-negara bersangkutan dalam posisi tidak berada dalam situasi keseimbangan eksternal maupun internal. Contoh: Perekonomian Indonesia di dalam negeri mengalami persoalan inflasi dan pengangguran yang meluas yang hal ini disebut perekonomian tidak berada pada posisi keseimbangan internal. Di pihak lain, neraca pembayaran internasioanl mengalami defisit. Hal inilah yang dimaksud dengan perekonomian tidak dalam keseimbangan eksternal, kurang lebih demikian pulalah kondisi negara Thailand yang juga mengalami ketidakseimbangan ekonomi internal maupun eksternal seperti Indonesia.

            Defisit neraca pembayaran, khususnya di Indonesia, terjadi akibat kecilnya perolehan devisa dari ekspor dibandingkan dengan kewajiban pembayaran utang ke pihak luar negeri baik sebagai akibat utang negara dan utang swasta dalam rangka investasi dan impor barang jadi maupun setengah jadi. Kebutuhan akan dolar terutama untuk membayar utang swasta jangka pendek yang telah sampai jatuh tempo pembayarannya, menimbulkan terjadinya excess demand (kelebihan permintaan) akan valuta asing yang berupa dolar Amerika. Hal ini berakibat merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam persentase yang amat besar. Kemerosotan nilai rupiah ini juga akibat spekulasi mata uang di pasar internasional. Intervensi Bank Indonesia melalui pelebaran kurs jual dan kurs beli menghasilkan sesuatu yang dapat menahan laju kemerosotan nilai tukar rupiah, dan akhirnya nilai tukar rupiah dibiarkan mengambang sepenuhnya.

            Dalam sektor produksi di Indonesia, komposisi bahan baku maupun bahan pembantu yang diimpor persentasenya cukup besar. Merosotnya nilai tukar rupiah menyebabkan sektor produksi sangat terpukul dengan kenaikan nilai bahan baku yang harus diimpor, yang hal ini langsung berpengaruh terhadap kenaikan harga di dalam negeri. Dalam jangka waktu 3 sampai 6 bulan, krisis moneter di Indonesia telah berubah menjadi krisis ekonomi yang cukup parah. Selain inflasi yang mencapai 47% (akhir  1997), banyak tenaga kerja yang terkena PHK karena sektor produksi manufaktur  banyak yang menutup usahanya atau mengurangui kapasitasnya sampai pada tingkat yang minimal. Musim kemarau panjang menyebabkan kegagalan panen tanaman pangan, sehingga harga beras naik diikuti harga kebutuhan pokok lainnya. Barang-barang kebutuhan pokok menjadi obyek penimbunan para pedagang dalam rangka spekulasi harga.

            Dalam mengatasi krisis ekonomi yang bersumber dari krisis moneter, negara-negara Asia sepeti Korea Selatan, Thailand dan Indonesia meminta bantuan pinjaman dana dari Dana Moneter Internasional (IMF), lembaga internasional ini yang disponsori oleh negara-negara maju, bersedia membantu memulihkan perekonomian negara-negara Asia yang terkena krisis dengan syarat harus melakukan perubahan kelembagaan ekonomi dan moneter. Perubahan ini yang sering disebut reformasi ekonomi. Tujuan reformasi ekonomi adalah untuk menghilangkan berbagai bentuk distorsi atau penghambat yang menyebabkan krisis, baik yang bersumber dari keseimbangan internal maupun eksternal.

            Bidang-bidang garapan reformasi ekonomi secara umum meliputi penataan kembali sistem keuangan dan perbankan, penghapusan monopoli berbagai jenis komoditi, penghapusan proteksi industri nasional, pengurangan subsidi berbagai kebutuhan masyarakat luas, memberikan subsidi untuk kredit usaha kecil dan sebagainya. Dilihat dari sisi moneter dan anggaran pemerintah, kebijakan reformasi ekonomi dan keuangan ini bersifat kontraktif. Sementara dari sisi pasar barang, sasaran reformasi mengarahkan berfungsinya mekanisme pasar. Dalam kurun waktu beberapa bulan sejak kesepakatan IMf dengan negara Korea Selatan dan Thailand, secara berangsur-angsur krisis ekonomi yang diawali oleh krisis moneter dapat diatasi. Kunci penanganan krisis pada dua negara tersebut adalah komitmen yang tinggi dari pemerintah untuk menangani krisis tersebut. Hal ini diwujudkan mulai dari permintaan maaf pemerintah Korea Selatan kepada masyarakat sampai kesediaan mundur dari jabatan Peradana Menteri Thailand.

            Penanganan krisis di Indonesia berlangsung berlarut-larut.  Hal ini disebabkan karena IMF menerapkan obat yang sama pada negara-negara yang terkena krisis, padahal latar belakang masing-masing berbeda. Akibat kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk menangani krisis maka lunturlah kepercayaan masyarakat akan itikad dan kemampuan pemerintah dalam menangani krisis ekonomi, sehingga tidak setiap kebijakan pemerintah selalu direspons secara positif. Tuntutan reformasi ekonomi kemudian diikuti reformasi politik yang semakin luas dan menyebabkan jatuhnya kekuasaan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto.

            Dalam krisis ekonomi yang tak kunjung selesai itu, berbagai kekeliruan kebijakan ekonomi pemerintah yang berorientasi pada target pertumbuhan ekonomi mendapat sorotan yang tajam. Secara tidak langsung hal inilah yang dianggap menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi akibat mekanisme yang tidak benar dalam saluran perkreditan, saluran impor, pemberian fasilitas dan kemudahan berbagai bidang pada para pengusaha konglomerat. Fokus penanganan krisis banyak terkonsentrasi pada usaha menstabilkan niali kurs rupiah pada tingkat yang wajar, dan usaha menekan tingkat inflasi ke tingkat 17% per tahun. Instrumen kebijakan moneter yang digunakan yaitu politik pasar terbuka melalui penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga yang tinggi,. Tingginya suku bunga SBI langsung berpengaruh pada suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Dengan tingkat suku bunga kredit sekitar 50% per tahun praktis aktivitas investasi di sektor produksi atau sektor riil terhenti sehingga wajar bila pertumbuhan ekonomi ditarget sebesar -4% per tahun.

            Langkah penyehatan lembaga keuangan bank diawali dengan likuidasi terhadap 16 bank swasta yang mempunyai masalah, dilanjutkan dengan pembekuan 7 buah bank swasta, dan memasukkan 47 bank umum swasta dan BUMN pada Badan Pengawas Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dalam rangka memperkuat permodalan bank umum, yang disyaratkan minimal Rp 250 miliar, pemerintah mengajurkan penggabungan bank-bank dengan cara merger. Kecilnya modal yang dimiliki oleh bank umum menyebabkan sering terjadi kesulitan likuiditas dan pada akhirnya menjadi beban Bank Indonesia yang harus memberikan kredit likuiditas pada bank-bank tersebut. Sebagian besar kredit likuiditas Bank Indonesia tersebut banyak menjadi kredit macet pada bank-bank umum swasta. Ironinya bagian terbesar bank-bank umum swasta tersebut dimiliki oleh para konglomerat. Kemacetan kredit likuiditas Bank Indonesia pada bank umum swasta, disebabkan oleh karena: pertama, sebagian besar kredit tersebut disalurkan pada sektor produksi milik grup masing-masing bank sehingga diduga kelayakan kredit usaha tersebut kurang selektif penilaiannya. Kedua, diduga kuat sebagian dari uang kredit tersebut disalurkan oleh para konglomerat ke bank di luar negeri. Di sinilah terbukti pula bahwa selain menjadi penyebab krisis ekonomi, konglomerat swasta juga menjadi penyebab krisis yang berlarut-larut yang sampai sekarang kasus-kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) masih belum dapat dituntaskan yang mengorbankan uang rakyat sampai ratusan triliun rupiah.

            Apa yang telah disinggung pada modul 6 ini, menggambarkan lemahnya kontrol pemerintah di sektor moneter dalam negeri sehingga membuat perilaku usaha konglomerat sulit dikendalikan. Kebijakan stabilisasi perekonomian Indonesia selama bertahun-tahun yang sangat terfokus pada sektor moneter, malahan membuat tingkat bunga dalam negeri tinggi melampaui tingkat bunga di pasar uang internasional. pinjaman luar negeri dalam bentuk dolar yang berjangka pendek dalam jumlah mencapai lebih dari 70 miliar dolar, mekanismenya tidak melalui Bank Indonesia sehingga fungsi kontrol BI terhadap kewajiban pembayaran utang luar negeri juga tidak ada. Hal inilah yang menjadi sumber krisis moneter dari sektor neraca pembayaran.

            Selanjutnya, dalam situasi krisis maupun pasca krisis, kebijakan pemerintah apa yang dapat memperbaiki dan meningkatkan peran swasta dalam perekonomian di Indonesia? Suatu pelajaran yang dapat dipetik dari akibat krisis ekonomi adalah kesengsaraan dan kemiskinan yang makin meluas di kalangan masyarakat Indonesia. Pengalaman krisis ini memberikan pelajaran bahwa kebijakan pemerintah yang selalu lebih beriorentasi ke pertumbuhan ekonomi, menyebabkan aspek pemerataan pendapatan menjadi dikalahkan dalam perekonomian Indonesia. Keberpihakan pemerintah kepada para pengusaha besar menghapuskan fungsi kontrol dalam penerapan kebijakan ekonomi pemerintah.

            Penerapan etika bisnis dari kalangan pengusaha tidk cukup hanya diharapkan melalui munculnya kesadaran internal, tetapi harus dipaksakan. Hal ini disebabkan karena etika bisnis yang diletakkan secara proporsional dalam perekonomian nasional sebenarnya merupakan corak utama dari sistem ekonomi Indonesia yang dibangun atas asas kekeluargaan. Etika bisnis yang dlandasi moral keagamaan, dalam praktek akan mencegah tingginya “social cost” yang harus ditanggung masyarakat dalam bentuk PHK, makin melebarnya jurang perbedaan pendapatan karena penetapan upah yang rendah, dan kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan eksternalitas negatif dalam perekonomian. Kemampuan pemerintah mendorong atau memaksa sektor usaha swasta meningkatkan perannya dalam ekonomi Indonesia melalui praktek penerapan etika bisnis tersebut hanya akan berhasil jika didasari oleh kondisi pemerintahan yang bersih dan berwibawa, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Di samping itu, demokrasi ekonomi harus ditegakkan, yang manifestasinya berupa keberpihakan pada ekonomi kerakyatan.

            Optimisme yang berlebihan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memperhatikan kondisi keseimbangan ekonomi eksternal dan internal, menyebabkan ekonomi Indonesia terjebak dalam krisis.

            Krisis ekonomi ini diawali dari krisis moneter yaitu berupa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam angka relatif yang sangat besar. Krisis yang menimpa perekonomian Indonesia , diawali dari krisis moneter yang menimpa beberapa negara di kawasan Asia.

            Upaya mengatasi krisis ekonomi di Indonesia tidak hanya memerlukan reformasi ekonomi tetapi harus diikuti reformasi politik dan hukum. Melalui saluran sektor moneter, peranan sektor swasta sebagai penyebab krisis di Indonesia sangat besar.

            Kebijakan pemerintah baik moneter maupun fiskal untuk mengatasi krisis berdampak meluasnya kemiskinan dan pengangguran. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan peran swasta dalam perekonomian Indonesia harus dimulai dengan penerapan dan operasionalisasi etika bisnis dalam bentuk menghindari PHK, penjaminan tingkat upah pekerja, dan menekan kerusakan lingkungan akibat pengurasan sumber daya alam. Etika bisnis ini hanya dapat dipaksakan jikak kondisi pemerintah bersih dan berwibawa.

SUMBER BUKU MATERI POKOK

ISIP4310/3SKS/MODUL6

SISTEM MEKONOMI INDONESIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Politik

Hubungan Antarkelompok di Indonesia

Sistem Sosial Talcott Parsons